Copyright © ISLAMIND
Design by Dzignine
Selasa, 13 Desember 2011

BENIH MAKSIAT DALAM SANTAPAN


BENIH MAKSIAT DALAM SANTAPAN[1]

كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى
Makanlah di antara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.(Qs.Thaha:81)

Imam bukhari meriwayatkan bahwa abu bakar as shidiq ra memiliki seorang pelayan. suatu hari, pelayan tersebut membawakan makanan untuknya, lalu beliau memakananya, setelah selesai makanan si pelayan berkata, ‘’tahukah anda, makanan apa itu? ia mejawab, ‘’dimasa jahiliyah saya pernah melakukan peraktek dukun untuk seseorang. dan sebenarnya saya tidak ahli, tetapi saya berhasl menipunya. kebetulan hari ini dia menemuiku dan dia memberiku upa. dari situlah makanan yang anda makan itu.
mendengar penjelasan itu abu bakar langsung memasukian jari tanganya ketenggorokan hingga muntah dan mengeluarkan isi perutnya.
penulis buku as shafwah menambahkan, ada seorang sahabat berkata kepada abu bakar, ‘’semoga allah merohmati anda, anda melakukan semua ini hanya gara gara sesuap makanan itu?’’
beliau menjawab,’’demi allah, seandainya saya tak dapat mengeluarkannya kecuali bersama nyawaku, pastilah saya keluarkan juga! saya pernah mendengar rasulallah saw bersabda (artinya): ‘’setiap jasad yang tumbuh dari barang haram, maka api neraka lebih layak untuknya!’’
Beliau begitu takut akibat makanan yang haram meskipun hanya sesuap nasi saja. karena makanan haram yang disantap dan masuk kedalam perut adalah benih yang akan menumbuhan jasad yang rajin bermaksiat. jika yang masuk kedalam perut sesuatu yang haram, maka hasil tenaga yang keluar adalah untuk yang haranm pula.
jika kita sakisikan kemungkaran dan kemaksiatan merajarela di negri kita, dan banyak dilakukan orang kebanyakan, bisa jadi itu pertanda bahwa makan haram telah menjadi konsumsi banyak orang. mungkin inilah zaman yang disebutkan oleh nabi saw.

‘’sungguh akan datang zaman atas manusia, di mana orang sudah tidak mempedulikan lagi apa yang diambilnya, apakah dari yang haram ataukah dari yang halal’’  

Modus Hawa Nafsu Menghalalkan Yang Haram

Orang orang yang makan barang haram memiliki dalih yang bervariasi. Ada yang memang tidak peduli sama sekali tentang status hukum suatu makanan. Baginya, yang penting bisa makan.
Sebagian lagi, makan barang yang haram dengan pertimbangan manfaat yang terkandung di dalamnya. Mungkin karena ada sisi ‘positif’’ untuk kesehatan, tenaga, atau efisiensi yang bersifat ekonomis. Paahal, allah maha tahu tentang seluruh ciptaanya. Allah maha tahu apa yang baik diambil oleh manusia, apa pula yang tidak baik. Jika allah mengharamkan sesuatu, pasti itu adalah sesuatu yang menimbulkan madharat jika dikonsumsi. Walaupun didalamnya ada faedah, maka madharat yang ditimbulkan olehnya jauh lebih besar.
Yang lebih berbahaya, ketika yang diharamkan oleh allah lalu di anggap halal dengan argumen yang tampak ilmiyah dan syar’iyah. Kadang menggunakan qiyas fasad (qiyas yang rusak/tidk tepat). Padahal qiyas hanya berlaku di saat dalil belum menyebutkan hukumnya secara defenitif. Jika sesuatu telah dihukumi haram oleh dalil yang shahih, maka tak ada peluang lagi untuk berqiyas.
Ada pula yang memelintir dalil untuk merubah status keharaman agar dianggap sebagai sesuatu yang halal. Seperti seseorang yang menghalalkan daging babi dengan alasan dalil umum seperti firman allah,
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(qs. Al imran:191)

Jelas ia telah meletakan dalil di tempat yang tidak semestinya. Memang, segala sesuatu pasti berfaedah, tak ada yang sia sia dalam ciptaan allah. Namun, apakah faedah yang dimaksud itu harus menjadikannya sebagai makanan? Apakah faedah batu juga harus dimakan? Ini termasuk membantah dalil dengan qiyas yang salah.
Ada lagi yang mencari cari alasan, katanuya daging babi itu haram kalau belum dimasak, jika sudah dimasak menjadi halal. Ini juga pikiran picik, sejak dahulu, orang makan daging babi juga dalam keadaan dimasak terlebih dahulu bukan dimakan hidup hidup. Dan sejak dahulu allah juga sudah mengharamkannya.
Maka hendaknya takut pada allah orang orang yang mencari alasan untuk menghalalkan apa yang diharamkan oleh allah. Karena menghalalkan apa yang diharamkan oleh allah adalah kekafiran berbeda dengan orang yang mengkonsumsi yang haram tapi ia meyakini keharamannya, jatuhnya adalah dosa besar, bukan kafir. Hendaknya kita juga waspada terhadap kemaksiatan yang sering kali dibungkus dengan kemasan yang tampak ilmiah.

Resiko Menelan Makanan Yang Haram
Apapun alasan orang untuk mengkonsumsi yang haram. Yang jelas resikonya terlalu besar. Barang yang haram adalah benih maksiat bnyak ulama juga berpendapat, bahwa syarat diterimnya suatu amalan adalah makanan yang halal. Artinya, allah tidak menerima amal shalih dari orang yang mengkonsumsi makanan yang haram, wallahu a’lam.
Resiko lain yang juga sangat besar, makanan haram juga menghalangi terkabulnya do’a.
Didalam sebuah hadits muslim, nabi saw menceritakan tentang seorang laki laki yang telah jauh perjalanannya, berambut kusut lagi berdebu, dia mengadahkan tangannya ke langit seraya berdoa, ‘’ya rab..ya rab..’’ sedangkan ia makan dari yang haram , berpakaian dari yang haram dan tumbuh dari yang haram, bagaimana mungkin akan terkabul do’anya?’’
Orang yang diceritakan nabi saw, dalam hadits ini, sebenarnya telah berdo’a dengan adab yang benar, ia juga dalam kondusi yang kondusif dan bagus untuk berdo’a.  Hanya saja, makanan yang haram menjadi penghalang terbesar bagi terkabulnya do’a. Lantas bagaimana halnya dengan orang yang tidak menekuni adab dalam berdo’a dan tidak pula mengetahui saat dan kesempatan yang baik untuk berdo’a, sedangkan ia enjoy dengan barang barang yang haram? Tentu lebih jauh lagi kemungkinan terkabul do’anya.





























LUPA DIRI AKIBAT MELUPAKAN ALLAH

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
‘’Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.’’(qs.al hasyr: 19)
Hasil yang diperoleh manusia, sebanding dengan usaha yang dilakukan. maka setiap kesalahan yang dilakukan oleh manusia, akan dibalas oleh allah dengan balasan yang setimpal dengan perbuatanya. Orang yang hendak menipu allah, maka allah akan menipunya, orang yang melalaikan allah, maka allah pun akan mentelantarkannya. Bahkan ia akan lupa terhadap dirinya sendiri. Seperti makna yang yang terkandung dalam ayat ini.
Bagai Ikan Lupa Airnya
Begitulah perunpamaan bagi manusia yang lupa akan fitrahnya, lupa akan jati diri yang sesungguhnya, bingung dalam mencari sesuatu yang akan membuatnya bahagia. Sulit diterima akal sehat, berbagai keniktmatan yang diburu sebagian orang justru sesuatu yang menyengsarakan dirinya. Laki laki yang tidak tertarik menikah dengan wanita dan sebaliknya, lalu mencari kesenangan dengan berhubungan initm sejenis, atau bahkan ada lagi yang melakukan dengan binatang. Kenikmatan macam apa yang dicari?
Orang yang doyan mencicipi berbagai macam minuman keras, karena bingungnya, berbagai jenis bahan dicoba dioplosnya untuk menuimbulkan efek ‘teler’ yang berlebihan. Tak jarang, akhirnya nyawa melayang karena over dosis atau keracunan.
Seperti juga orang yang mencari sensasi dengan mentato sekujur tubuh, melobangi telinga dengan lobag yang besar, membelah lidah dan mengebor hidung untuk ditindik, dimana sisi indahnya?di mana efek ebaknya?
Gambaran itu hanya sebagian kecil dari jutaan keanehan pilihan hidup yang diambil oleh manusia hari ini. Perbruruan kenikmatan yang tak pernah ditemukan, laksana mencari api kedalam lautan, atau mencari air dalam kobaran api.
Begitulah, ketika seseorang berpaling dari kenikmatan yang digariskan oleh penciptanya, niscaya allah akan membiarkan ia tersesat, terlantar, terseok seok dan kebingungan dalam mendapatkan kenikmatan dan kebahagian hakiki. Semua ini dikarnakan mereka melupakan allah, maka allah pun membiarkan dan melupakan mereka.
Ibnu qoyyim dalam miftah daaris sa’aadah  memberikan uraian yang sangat bagus terhadap ayat ini. ‘’perhatikanlah ayat ini, anda akan memnemukan nilai yang luhur dan agung didalamnya.barangsiapa yang melupakan rabbnya, niscaya allah akan membuatnya lupa akan dirinya sendiri. Ia tidak mengenal hakikat dirinya, apa yang mendatangkan maslahat untuk dirinya, ia melupakan apa apa yang bisa mendatangkan kebahagiaan untuknya, baik dalam kehidupan didunia, maupun akhiratnya. Ia hidup terlantar layaknya binatang ternak yang tersesat. Bahkan binatang ternak lebih tahu tentang maslahat darpada dirinya, lantaran masih berjalanya insting yang allah karuniakan kepadanya. Sedangkan orang ini, ia melupakan fitrah yang allah ciptakan untuknya.
Jangan Ikuti Mereka
Begitu mengerikan hukuman bagi orang yang melupakan allah. Belum lagi diakhirat, mereka akan dibangkitkan allah dalam keadaan buta, hingga mereka bertanya, ‘’rabbi mengapa engkau bangkitkan aku dalam keadaan buta, sedangkan aku dahulu bisa, melihat?’’ allah menjawab.

Allah berfirman:
قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آَيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى
"Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan." (qs. Thaha: 126)
Lantas Bagaimana Seseorang Dianggap Melupakan Allah Itu?
Para ahli tafsir memiliki pendapat yang bervariasi berkenaan maksud melupakan allah. Ibnu katsir menyebutkan, ‘’yakni janganlah kalian lupa dari mengingat allah ta’al, karena kamu akan lupa beramal shalih, sesungguhnya balasan itu setimpal dengan jenis perbuatannya, ‘’al qurthubi berkata, ‘’mereka melupakan allah, yakni meniggalkan perintahnya, sehingga mereka lupa diri untuk melakukan kebaikan. ‘’sedangkan ibnu jarir at thabari berkata, ‘’yakni melupakan hak hak allah yang telah diwajibkan atas mereka.’’
Benang merah yang bisa kita ambil dari defenisi para ulama tersebut adalah, bahwa maksud melupakan allah adalah tidak mengingatnya, tidak mengindahkan perintah dan larangannya, dan tidak menunaikan hak haknya. Sekedar melafazkan bacaan dzikir belum membebaskan seseorang dari ancaman melupakan allah, kecuali jika ia tunduk dan patuh terhadap perintah dan larangannya. Atha’ bin abi rabah rhm menyebutkan bahwa, ‘’ad dzkru at tha’atullah’’, dzikir itu taat pada allah, barangsiapa tidak mentaatinya berarti dia belum dianggap dzikir, meskipun dia banyak mengucapkan tasbih, tahmid, dan takbir.
Kita tak hanya dilarang melupakan allah tapi juga dilarang mengikuti para pelakunya. Janganlah kita terpesona oleh gerak gerik dan kebebasan mereka.
Mereka bukan orang merdeka. Tapi terjajah oleh hawa nafsunya. Syaikhul islam ibnu taimiyah berkata,’’sesungguhnya orang orang yang mengikuti sahwatnya terhadap rupa, makanan, minuman dan pakaian menyebabkan syahwat akan menguasai hatinya, ketika syahwat berselera terhadap sesuatu, ia akan memaksa dan mengendalikannya, sehingga hati menjadi tawanan bagi selera hawa nafsunya, hati akan bergerak kemanapun hawa nafsu menginginkannya. ‘’sungguh, tak ada tawanan yang lebih hina dari orang yang ditawan oleh hawa nafsunya.
Yang mereka rasakan bukanlah kebahagiaan, bukan pula kepuasan. Laksana minum air garam, makin banyak minum, makin terasa haus dibuatnya. Mereka juga bukan orang sukses meraih keinginannya. Bahkan mereka tengah bingung memburu kenikmatan. Laksana binatang gembala ditinggalkan oleh pengembalanya. Berjalan tak tentu arah, makin lama berjalan, makin jauh dari tempat tujuan. Siapa lagi yang lebih tersiksa dari mereka. Ya allah, bantulah kami untuk senantiasa mengingatmu, bersyukur kepadamu, dan memperbaiki ibadahku kepadamu. Amin.  






































KERJA KERAS DI DUNIA, SENGSARA DI AKHIRAT

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ () تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً
'' bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka)
(qs. Al ghasiyah: 3-4)
Kita pantas salut melihat orang yang kerja keras mengais rezeqi, membanting tulang dan menguras keringat. Tapi rasa salut itu akan berbalik menjadi belas kasihan, ketika kita tahu, bahwa ternyata ia adalah orang yang tidak memperhatikan urusan akhiratnya. Tidak shalat tidak ta’at dan bahkan uang yang didapatkan tidak seberapa banyak ia hasilkan dari kerja kerasnya digunakan untuk bermaksiat. Betapa tidak, hasil dari jerih payahnya bukan kebahagiaan, tapi kepayahan yang lebih dahsyat dari kepayahan yang dialami di dunia.
عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ () تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً
'' bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka)
(qs. Al ghasiyah:3-4)
Kerja Keras Di Akhirat
Banyak variasi pendapat para ulam dalammentafsirkan firman allah, ‘’bekerja keraslagi kepayahan. ‘’apakah itu terjadi di dunia, ataukah di akhirat, yakni di neraka. Al fahkru razzi dalam tafsirnya menyebutkan tiga pendapat, ‘’bisa jadi segala kerja keras dan kepayahan yang dimaksud semua dialami di dunia, bisa semuanya terjadi akhirat, dan bisa jadi pula sebagian kepayahan itu dialami di dunia, sebagian lagi dialami di akhirat.’’beliau tidak memberikan keterangan manakah mana yang lebih rajih di antara tiga pendapat tersebut.
Namun, tak ada ulama yang membantah, bahwa di neraka, penghunia akan mengalami kerja keras dan kepayahan. Dan tidak ada yang lebih payah dari kepayahan yang dialami dari kepayahan yang dialami oleh penduduk di neraka.
Hasan al basri rhm, mengatakan bahwa,’’mereka dibuat kerja keras dan lelah di neraka oleh rantai dan belenggu.’’
Berbeda dengan kepayahan di dunia yang berjeda dan ada kesempatan untuk istirahat. Di neraka kepayahan akan berlangsung selamanya. Sementara maknannya duri yang tidak mengemukkan dan tidak pula menghilangkan rasa lapar. Tak ada pula minuman selain air mendididh yang amat sangat panasnya.

Kerja  Keras Di Dunia Untuk Di Dunia
Meskipun makna sudah pasti dalam ayat tersebut adalah kepayahan di hari kiamat sebagaimana diindikasiakan ayat sesudah dan sebelumnya, namun tidak dipungkiri, bahwa yang mereka alami di neraka itu karena ulahnya di dunia. Sehingga banyak ulama yang mengaitkan kerja keras dan kepayahan di akhirat itu sebagai balasan atau tindakan mereka yang sesat di dunia. Ibnu abbas berkata,’’yakni mereka sudah bekerja keras dan kepayahan di dunia, lalu pada hari kiamat dia masuk kedalam neraka yang sangat panas.
Kerja keras di dunia yang dimaksud bisa bermakna orang yang hanya mencari kenikmatan di dunia semata. Mereka bersusah payah, membanting tulang, sekedar untuk mencari makan dan kebutuhan hidup semata pada saat yang bersamaan, mereka enggan untuk mengabdi kepada allah, meniggalkan amal yang bisa mereka bahagia dan selamat di akhirat. Atau bahkan kerja kerasnya dalam rangka bermaksiat kepada allah. Inilah pendapat yang diutarakan oleh ikrimah dan as suddi, ‘’di dunia mereka kerja keras di dalam maksiat, sehingga merasakan kepayahan di neraka dengan azab dan kesengsaraan.’’
Alangkah mengenaskan nasib mereka. Di dunia tak menderita, di akhirat sengsara selamanya. Lantas kapan mereka bisa mendapatkan kebahgian? Penderitaan mana yang lebih berat daripada penderitaan ini.
Islam menghasung kita untuk kerja keras. Jika kemudian hasil jerih payah yang di dapatkan belum mencukupi kebutuhan, jangan  samapi membuat kita berputus asa untuk mendapatkan kenyamanan di akhirat. Bahkan, bagi orang yang beriman, ketika mendapatkan dirinya hidup dalam kemiskinan dan pederitaan, dia terhibur dengan keyakinan, bahwa kemiskinan itu hanyalah sementara, kelak di jannah takkan lagi terasa bekasnya. Berganti dengan kenikmatan tiada tara. Dengan motivasi ini, mereka akan memperhatikan akhiratnya. Bersabar dalam menghadapi cobaan, sabar dalam menghadapi kataatan, dan bersar agar tidak tergiur dengan cara cara maksiat untuk mendapatkan rizqi.
Mereka itulah orang orang yang cerdas, bahkan lebih cerdas daripada orang orang kaya yang menjadikan dunia yang begitu singkat sebagai tujuan akhiratnya, mereka memakmurkan mereka dengan cara merusak akhiratnya. Mereka memilih untuk menderita selamanya, asalkan bisa sesat bersenang senang di dunia. Sungguh merupakan pilihan yang picik dan tidak sesuai dengan nalar yang sehat.

Kerja Keras Untuk Akhirat, Tapi Sesat
Penafsiran lain dari ‘kerja keras dan berpayah’ dari surat al-ghasiyah ini adalah kerja keras untuk mendapatkan pahala, namun berangkat dari keyakinan yang sesat, atau cara yang salah. Syaikh as sanqhithi menukil sebagai penafsiran, ‘’bahwa maksud ayat itu adalah, ‘’mereka kerja keras dan kelelahan dalam menjalankan ibadah yang sesat, seperti para pendeta dan uskup, begitupun dengan para pelaku bid’ah.
Kelompok ini juga sangat memperhatiakan. Betapa tidak, mereka merasa telah menjalankan ibadah, bersusah payah untuk berbuat baik dalam perasangkaannya, namun ternyata sesat,
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا () الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.(al kahfi:103-104)
Mereka salah dalam keyakinan, keliru pula dalam mejalankan. Sementara mereka menyangka di atas kebenaran. Karena itulah, ketika umar bin kahtab melewati seorang pendeta yang sedang ‘khusuk beribadah’ , beliau berhenti sejenak dan memperhatikannya. Lalu beliau menangis sembari membaca firman allah, ‘amilatun nasibah, taslanaran hamiya, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang panas (nereka).’’ Karena apa yang dilakukan pendeta itu adalah kekhusuan dalam kekafiran.
Termasuk dalam katagori ini, mereka yang beribadah, baik shalat, dzikir dan amalan lain yang tidak mengikuti sunnah. Mereka yang mengikuti bid’ah yang diada adakan. Syaikh as shinqithi mengingatkan tatkala menafsirkan ayat ini, ‘’hendaknya takut akan ayat ini, orang yang beramal tanpa ilmu, tapi beramal diatas bid’ah dan kesesatan.
Umumnya, orang yang melakukan bid’ah memiliki prasangka akan mendapatkan pahala lebih dengan mejalaninya. Padahal, bukan itu amal yang dikehendaki oleh allah. Syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan benar. Ikhlas adalah beramal untuk allah, sedangkan benar adalah sesuai dengan sunnah rasulallah saw. wallahu alam bis shawab.  


























 
ILMU MAKIN BANYAK DIMILIKI MAKIN MENARIK
UNTUK DICARI

Ilmu memang harus dicari dengan susah payah, tak kenal lelah, bahkan menuntut banyak pengorbanan. Tapi, buah yang bakal diraih adalah kenikmatan tiada tara. Jerih payah dalam menuntut ilmu Muhammad bin thahir al maqdisy mengkisahkan suka dukanya tatkala mencari ilmu,  ‘’aku telah kencing darah ketika menuntut ilmu sebanyak dua kali, hal ini disebabkan karena aku terus berjalan kaki diterik matahari yang menyengat, dan aku tidak pernah mengendarai kendaran dalam menuntut ilmu kecuali hanya sekali saja, aku bawa buku diatas punggungku sampai aku tiba dinegri yang kutuju. Dan selama dalam perantauan aku mencukupi kebutuhan hidupku dengan apa yang allah berikan kepadaku, tanpa meminta minta.
Jauhnya perjalanan dan kondisi keterbatasan dalam mencari ilmu dialami pula oleh abu dzakariya at tibrizy. Beliau memasukan kitab kedalam keranjang, lalu memanggulnya dari kota tibriz hingga kota al ma'arah. Beliau menempuhnya dengan berjalan kaki karena tak memiliki harta untuk menyewa kendaraan. Kertinggatnya bercucuran dari punggung hingga membasahi kitab yang dibawanya. Orang yang melihatnya, mengira kitab yang dibawanya baru saja tenggelam dalam air karena basah.
Lain lagi dengan imam  al bukhari, tidak saja menempun perjalanan jauh, tapi juga banyak mengggorbankan waktu tidurnya untuk mencari ilmu dan belajar. Ibnu katsir menceritakan, ''al bukhari pernah bangun dari tidur pada suatu malam kemudian ia menyalahkan lampu dan menulis ilmu yang terlintas dibenaknya kemudian mematikan lampu itu. Lalu ia bangun lagi dan begitu seterusnya hingga sampai kurang lebih 20 kali.
Jerih payah yang mereka lakukan akhirnya membuahkan hasil. Allah megangkat derajat mereka, dan menganugrahkan kepada mereka kelezatan dalam belajar, dan kenikmatan menjadi orang alim. Kenikmatan yang seandainya para raja tahu dan mampu, tentu mereka akan merebutnya dengan pedang pedang mereka. Itulah kenikmatan yang tak pernah akan diraih oleh orang yang pernah merasakan pahit getir mencari ilmu. Imam as syafi'i rhm berkata,

من لم يذق ذل التعلم ساعة نجرع ذل الجهل طول حباته
''barangsiapa yang belum pernah merasakan suatau saat kesusahan dalam mencari ilmu, maka ia akan mengenyam pahitnya kebodohan selama hidupnya.''
Maka jangan berharap menjadi orang besar, menjadi ulama atau pemimpin yang handal, jika belum pernah merasakan pahitnya mencari ilmu.

Tak Ada Kata Jemu Bagi Penuntut Ilmu
Penuntutu ilmu sejati, takkan pernah jemu. Bila semula belajar menjadi beban, akhirnya ilmu menjelma menjadi sebuah kenikmatan. Semakin banyak dicari, semakin banyak dimiliki, pesona ilmu akan menarik hati untuk dicari. Tak ada ceritanya, orang yang berilmu bosan dan merasa cukup untuk belajar. Jika ternyata ada orang yang merasa puas dengan ilmu yang dimiliki, berarti dia orang yang bodoh, belum masuk dalam kriteria penuntut ilmu. Abdullah bin mas'ud berkata:''ada dua golongan yang tidak akan pernah merasa puas, penuntut ilmu dan pemburu dunia. Keduanya tidak sama. Adapun penuntut ikmu semakin mendatangkan ridha allah, sedangkan pemburu dunia semakin membuat dirinya melampui batas.''
Alangkah tepat yang beliau katakan. Tingginya ilmu, banyaknya santri dan tingginya kedudukan tidak membuat para ulama ingin rehat dari thalabul ilmi. Seperti yang dilakukan oleh ali bin al husain. Ketika beliau memasuki masjid untuk mengadiri majlis ilmu zaid bin aslam, naïf bin zubair berkata, ''semoga allah swt memaafkan anda, anda seorang sayid dari kebanyakan manusia, tetapi anda masih berusaha susah menghadiri majlis ilmu hanya seorang hamba sahaya. ''beliau menjawab, ilmi itu dibutuhkan, didatangi dan dicari dimanapun ia berada.'
'
Sakit Dan Tua Tetap Berhasrat
Rasa sakitpun tak kuat untuk membendung rasa ingin tahu para ulama, walaupun sakit parah yang mengantarkan kepada kematian. Ketika ibnu jarir sakit menjelang wafatnya, ja'far bin muhammad memanjatkan do'anya untuknya. Ibnu jarir kemudian meminta tempat tinta dan selembar kertas untuk menulis do'a itu. Orang orangpun bertanya heran, ''dalam keadaan seperti ini? ''beliau menjawab, ''sudah selayaknya, seseorang untuk tidak berhenti menuntut ilmu, hingga menjelang kematiannya.'' Belum lagi tamu itu keluar,beliau sudah menghembuskan nafas terakhirnya, semoga allah merohmatinya.
Usia tua juga tidak berpengaruh apa apa, selain bertambahnya semangat dan gairah para ulama untuk belajar. Abul wafa ali bin abu aqil menceritakan tentang dirinya, ''sesungguhnya aku tidak akan pernah membiarkan diriku membuang waktu walaupun meski hanya sesaat saja dalam hidupku. Sampai sampai apabila lidahaku berhenti berdzikir atau berdiskusi, pandangan mataku juga berhenti membaca, segera aku mengaktifkan fikiranku kala beristirahat sambil berbaring. Ketika aku bangkit, pasti sudah terlintas sesuatu yang akan kutulis. Dan ternyata aku mendapati hasratku untuk belajar pada umur 80an tahun, lebih besar hasrat belajarku pada umur dua puluh tahun.'' Subhanallah, dimanakah orang orang yang mengikuti jejak beliau.
Orang orang juga heran dengan perihal imam ahmad bin hambal. Makin senja usia, makin akrab dengan kertas dan tinta, makin tinggi ilmunya, makin lengket dengan ilmu. Hingga orang orangpun bertanya, ''sampai kapan anda berhenti dari mencari ilmu, padahal anda sekarang sudah mencapai kedudukan yang tinggi dan telah pula menjadi imam bagi kaum muslimin?'' maka beliau menjawab, bersama tinta hitam hingga masuk keliang lahat.
Jika anda penuntut ilmu sejati seperti mereka, tak ada kata jemu, bosan, atau merasa cukup dalam belajar. Ya allah ajarkanlah apa apa yang bermanfaat bagi kami, dan berikanlah manfaat atas apa apa yang telah engkau ajarkan kepada kami. Amien.









































MENGASAH EMPATI MENGIKIS EGO DIRI

Uwais al qarni, seorang tabi'in yang mulia, dan keshalihannya telah diisyaratkan oleh rasullah saw, seorang ahli ibadah, namun juga sangat perhatin terhadap nasib saudaranya. Saat tak ada lagi sesuatupun yang dimilikinya, sementara masih ada orang yang hidup menderita, beliau berdo'a, ''ya allah saya memohon udzur kepada-mu hari ini, lantaran tidak mampu memberi makan orang kelaparan, dan tak mampu membri pakaian kepadaorang yang tak punya pakaian. Tak ada lagi pakaian. Tak ada lagi makanan di rumahku selain apa yang telah berada di dalam perutku, dan aku tidak memiliki apa –apa lagi selain apa yang telah menempel pada ditubuhku beliau hanyalah sehelai baju yang telah usang.
Begitulah, tanggung jawab yang dirasakan oleh uwais sebagai seorang muslim. Tidak hanya cukup bersombong, ''yang penting aku tidak merugikan orang lain, tidak mengganggu, atau mencelakainya.'' Tidak cukup hanya itu. Tapi manfaat apa yang bisaia berikan kepada saudaranya muslim yang membutuhkan. Islam menganjurkan umatnya memiliki perhatian terhadap nasib saudaranya.
Dengan akhlak seperti ini, dakwah mudah diterima, ikatan ukhuwah semakin erat, dan kekuatan menjadi kokoh.
Berbeda dengan sikap ananiyah (induvidualis/egois), masa bodoh, tak menjaga perasaan orang lain dan hahya mementingkan diri sendiri. Dia ingin diperhatikan, namun enggan membre perhatian. Sifat ananiyah, kalaupun tidak secara langsung menimpakan gangguan kepada orang lain, namun berpotensi menumbuhkan bibit kedengkian. Dari kedengkian akan muncul kebencian, lalu perpecahan. Ujung ujungnya, kelemahan kaum muslimin dan penguasaan musuh terhadap mereka. Karena, itu islam mengasung umatnya untuk berlaku empeti, sekaliggus memberi perhatian kepada saudaranya muslim, dari hal kecil hingga perkara yang besar dan mendesak. Nabi saw mengasingkan keimanan seseorang yang tidak peduli terhadap nasib yang dialami oleh saudaranya. Beliau saw bersabda,
ما آمن مَنْ بات شبعاناً وجارُهُ حائع إلى جنبه و هو يعلم به
''tidak sempurna iman sesorang kepadaku yang bermalam dalam kondisi kenyang, sementara tetangganya kelaparan di sisinya dan ia mengetahuinya.''(Hr. at thabrani dan al bazaar)

Salam, Bukan Basa Basi
          Bentuk perhatian pertama terhadap sesama muslim adalah dengan menyebarkan salam. Anjuran nabi saw, ''sebarkanlah salam diantara kalian'' adalah kalimat yang memiliki kandungan makna yang dalam, cakupan yang luas, dan mengandung konsekuensi yang tidak sederhana. Bukan sekedar basa basi yang tidak berarti apa apa. Unkapan itu mengandung perhatian bahwa dia betul betul suka jika saudarnya dalam keadaan selamat dan tulus berharap dan untuk itu. Ini menurut dirinya menjaga darah, harta dan kehormatan saudaranya.
Sufyan bin uyainah ra menafsirkan makana salam, ''orang yang menyapa''assalammu'alaikum'' berarti dia mengatakan, ''engkau selamat dari gangguanku dan aku selamat dari gangguanmu, begitu juga dengan jawaban,'' maka tidak sepantasnya jika kedua pihak yang saling menucapkan salam tersebut menggunjing dibelakangnya dengan sesuatu yang tidak layak, baik berupa ghibag maupun selainnya.
          Apalagi jika pertemuan antara dua orang muslim diawali dengan salam dan disertai dengan jabat tangan, niscaya dosa keduanya dihapus sebelum keduanya berpisah,sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih.

Tahaadu Tahaabbu
Di samping do'a keselamatan yang sekaligus berupa ikrar untuk tidak saling mengganggu, saling memberikan hadiah adlah bukti adanya perhatian, juga sarana menjalin kasih sayang sesama muslim. Karenaitu nabi saw, memberikan motivasi, tahaadu tahaabbu...'' hendaknya kalian memberikan hadiah satu sama lain. Niscaya kalian akan salin mencintai. Janganlah kita mengganggap pemberian, meski sedekit. Karena masalah yang didapat bukan saja dari sisi materi, tetapi secara maknawi lebih berarti.
Nabi saw, berpesan kepada kaum wanita,
يا نساء المسلمات، لاتحقرن جارة لجارتها ولو فرسن شاة
''wahai wanita wanita muslimah, jangan sekali kali seorang mengganggap remeh untuk memberikan hadiah kepada tetangganya walaupun hanya dengan sepotong kaki kambing.''(Hr. Bukhari dan Muslim)
Bahkan, jika kita memasak suatau masakan yang berkuah, memperbanyak kuah lebih baik, agar manfaat bisa dirasakan oleh banyak orang. Seperti pesan nabi saw yang ditunjukan kepada abu dzar algihifari.
Tujuan hadiah bukan sekedar manfaat materi yang dirasakan, namun juga pengaruhnya secara maknawi, meski tidak seberapa, hadiah akan menumbuhkan cinta dan persaudaraan. Al hafidz ibnu hajar as qholani  rhm, dalam fathul baari menyebutkan hadits asiyah ummul mukminin ra yang diriwayatkan oleh at thabari.

يا نساء المؤمنين، تهادوا ولو فرسن شاة، فانه ينبت المودة ويذهب الضغائن
''wahai istri istri orangorang yang beriman, hedaknya kalian saling memberikan hadiah, hanya sepotong dengan kaki kambing, karena hal itu akan menumbuhkan rasa cinta dan menghilangkan kedengkian.''(Hr. at Thabrani)
Ada pula riwayat yang menakjubkan perihal antusiasnya para sahabat dalam memberikan hadiah. Al waqidi meriwayatkan sebuah atsar dari Abdullah bin umar rhma, ''salah seoranr dari sahabat rasullah saw menghadiahkan sepeotong kepala kambing kepada seseorang. Orang itupun berkata, ''saudaraku sipulan lebih berhaq menerima ini, ia sangat membutuhkannya, kemudian kepala kambing itu dihadiahkan kepada orang yang dimaksud,. Setelah menerima pemberian itu sampai kepada orang yang dimaksud ia juga mengatakan, ''berikan ini kepada saudaraku si fulan karena ia lebih berhaq menerimannya''. Selanjutnya si fulaan itupun mengahadiahkannya kepada yang lain dan demeikian seterusnya hingga kepala kambing itu sempat diterima oleh tujuh keluarga dan akhirnya kembali orang pertama yang memberikannya.

Membantu Kesulitan Saudarnya    
Hadiah diberikan kepada saudaranya, meskipun itu berupa sesuatu yang tidak terlalu dibutuhkan. Lalu, bagaimana jika ternyata ada saudaranya muslim yang terdesak kebutuhan, atau sedang mendapatkan kesulitan? Tentu anjuran islam untuk menolong makin kuat ditekankan. Nabi saw menjanjikan siapapun yang mengentaskan penderitaan saudaranya, akan terhindar dari kesulitan yang paling besar,
مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ فَإِنَّ اللَّهَ فِى حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
''barang siapa yang mencukupi kebutuhan saudarnya, niscaya allah akan memenuhi kebutuhannya, dan barang siapa yang melepaskan satu kesusahan yang dialami oleh seorang muslim, maka allah akan meng-hindarkannya dari satu kesusahan di hari kiamat.''(Hr.Muslim)
Membantu bisa dalam bentuk memberi, bisa pula meminjami. Bahkan dalam bebrapa hal, memberikan pijaman lebih utama daripada memberi. Ibnu Majah dalam kitab as shadaqah meriwayatkan sebuah hadits,
'' pada malam isra',aku melihat diatas pintu jannah tertulis pahala sedekah sebanyak sepuluh, sedangkan memberikan pinjaman diberi pahala delapan belas. Maka aku bertanya kepada jibril, ''keapa memberi pinjaman lebih utama daripada bersedekah? ''jibril menjawab, ''karena orang yang meminta sesuatu, bisa jadi telah memilikinya, namun orang yang meminjam, tidaklah ia meminjam karena kecuali karena sangat membutuhkan.''(Hr.Ibnu Majah)
Tentu saja hadiah itu menjadi motivasi kita untuk memberi kemudahan pinjaman bagi orang yang berhutang, bukan mendorong kita gampang berhutang. Masing masing harus saling menjaga dan pengertian. Jika tidak, saling curiga, saling benci dan perpecahan tinggal menunggu waktu. Bayangkan jika yang satu mudah memberi pinjaman, lalu dimanfaatkan oleh orang yang gampang berhutang. Atau sebaliknya, ada orang yang sangat membutuhkan, namun yang memiliki harta menaruh curiga, atau pura pura tidak tahu, tentu jalinan ukhuwah tak akan berthan lama.
Untuk itulah, di samping memberikan motivasi bagi yang mendapat rezeki untuk memberikan pinjaman, syariat juga menancam orang yang menyalahgunakan kepercayaan dan kelonggaran saudaranya. Nabi saw bersabda,
''barang siapa yang meminjam harta orang lain dengan maksud mengembalikannya, maka allah akan membantunya untuk dapat mengembalikannya, dan barang siapa yang meminjamnya dengan maksud mengambilnya, maka allah akan menjadikan harta itu ludes karenanya.''(Hr. al Bukhari)
Ini dalil hendaknya dipegang oleh peminjam, sedangkan sebelumnya, adalah dalil untuk orang yang memiliki kelonggaran. Jika masing masimg terbalik dalam menggunakan dalil, niscaya ukhuwah akan terancam pecah. Nas'alullahal'afiyah.

SEBELUM KESEMPATAN BERUBAH MENJADI
PENYESALAN

وَلَوْ أَنَّ لِكُلِّ نَفْسٍ ظَلَمَتْ مَا فِي الأرْضِ لافْتَدَتْ بِهِ وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ
''an kalau setiap diri yang lalim (musyrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya.''(qs. Ynus:54)

Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Begitulah kata mutiara berbicara. Akan tetapi, ada kondisi dimana kegagalan tak mungkin lagi menjadi tangga kesuksasan,. Yakni, kegagalan yang dialami manusia dalam menjalani kehidupan, lalu dating pdanya kematian. Jika seseorang salah dalam menggelola hartanya, menyimpang dalam mempergunakan waktu dan umurnya di dunia, juga sesat dalam mengkaryakan hati dan seluruh jasadnya, maka ia akan menelan pahitnya kegagalan selamanya, kesengsaraan yang takkan ada ujung kesudahannya,. Yakni saat datangnya hari pembalasan, yang ada hanyalah penyesalan, yang ada hanyalah kata terlambat. Tak ada waktu perbaikan, tiada kesempatan untuk mengulang. Tinggallah angan angan kosong dan rintihan permohonan yang mustahil dikabulakan, mereka berkata,
قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ () لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
"Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.(qs. Al mukminun:99-100)

Andai Hidup Bias Diulang
Itulah penyesan yang telah menyia-nyiakan umurnya, menghamburkan kesempatan dan peluangnya untuk hal hal yang sia sia, atau kadang bahkan terlalu boros dalam mengalokasikannya ke dosa. Saat yang bersamaan, mereka amat bakhil untuk memanfaatkannya dijalan yang dikehendaki oleh penciptanya. Mereka begitu 'dermawan' dalam membagi bagikan jam demi jam untuk menikmati hiburan haram, hari demi hari untuk kesibukan diluar ketaatan,. Namun mereka terlampu 'hemat' dan bakhil untuk meluangkan menuntut ilmu syar'I, shalat tepat waktu, terlebih untuk berdakwah, meyeru manusia kejalan allah. Kalaupun ia mengerjakan, di akhir waktu atau disela sela kesibukan duniawinya.  Pun dikerjakan dengan tergesa gesa. Berbeda sekali ketika mereka menggunakan waktunya untuk memuaskan hawa nafsunya.
Begitupun halnya  dengan potensi jasad ban tenaga, berapa banyak dikerahkan untuk beribadah? Sering kali kewajiban sebagai hamba allah ditunaikan hanya dengan sisa sisa tenaga yang ada. Andai saja mereka melihat siksa yang dihadapan mereka, tentu mereka rela mengarahkan seluruh potensi yang dimilikinya, medermakan total waktu hidupnya agar selamat dari siksa. Firman allah ta'la.''
''dan jikalau setiap diri yang dzolim itu mempunyai segala apa yang ada dibumi, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembuyikan penyesalan ketika telah menyaksikan azab itu,''

Andai Siksa Bias Ditukar Dengan Harta
Nasib tergis juga bias dialami oleh orang yang salah dalam mengelola hartanya. Penyesalan mereka dikisahkan oleh allah swt,
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
''Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"(qs. Al munafiqun :10)
Saat menyaksikan siksa yang hendak ditimpakan atasnya, mereka ingin seandainya bias, hendak menebus dirinya dengan apapun yang dimilikinya di dunia, yang penting dirinya bias selamat dari siksa.
Anas bin malik meriwayatkan, bahwa nabi saw bersabda, ''akan dikatakan kepada orang kafir pada hari kiamat, '' bagaiman pendapatmu, seandainya kamu memiliki emas sepenuh bumi, apakah kamu akan menebus siksa dengannya?'' ia menjawab, ''benar'' dikatakan kepadanya, ''dahulu (di dunia), kamu dituntut untuk melakukan hal yang lebih ringan dari itu(namun enggan melakukannya).''
Dalam riwayat yang lain, ''dikatakan kepadanya, ''dusta kamu, dahulu kamu dituntut melakukan hal yang lebih ringan(namun enggan kamu lakukan). ''(shahih muslim dengan syarah an nawawi)
Ya, tuntunan di dunia lebih ringan dari itu semua. Manusia tidak diharuskan menginfakkah seluruh harta yang dimilikinya. Mereka juga tidak dituntut berderma emas sepenuh bumi meskipun punya. Yang wajib hanyalah zakat fitri berupa 1 sha' makanan pokok, pun setiap setahun sekali. Juga zakat mal yang rata rata hanya 2,5 persen atau lebih sesuai dengan jenis hartanya. Itupun juga dilakukan atas harta yang sudah mencapai nishab dan sampai haulnya. Selebihnya adalah sedekah tathawu' dan keutamaan. Andai saja manusia tahu dan peduli, tentu halitu amatlah ringan dilakukan. Jauh lebih ringan dari apa yang diangankan manusia di akhirat, yakni menginfakkan sepenuh bumi emas.

Mumpung Masih Di Dunia
Kita tidak ingin kegagalan itu menimpa kita. Nas'alullah'afiyah, kita juga tak ingin penyesalan yang terlambat itu bakal kita alami nantinya. Dan kita masih punya kesempatan untuk itu.
Abu ishaq, ibrahim bin yazid bercerita, ''suatau kali riyah al qaisy mendatangiku dan berkata, ''wahai, abu ishaq, mari ikut aku menemui penghuni akhirat, dan marilah kita membuat komitmen bersama di sisi mereka.'' Lalu kamipun pergi kesebuah pemakaman untuk dzikrul maut. Kami duduk di sisi sebuah kuburan, lalu riyah berkata, ''wahai abu ishaq, kira kira apa yang ingin diangan angankan oleh mayit ini jika ia diminta untuk berangan angan?'' ibrahim menjawab, ''demi allah, pastilah ia ingin dikembalikan ke dunia, agar bisa mentaati allah dan memperbaiki amalnya. ''lalu riyah berkata, ''nah mumpung kita masih di dunia, selayaknya kita mentaati allah dan memperbaiki amal kita.''
Benar, kita sedang menempati ruang yang diangankan oleh orang yang mati. Semestinya, kita beramal sesuai dengan apa yang menjadi angan angan mereka, sebelum nantinya kita benar benar akan menyesal dan hanya bisa berangan angan. Wallahul muwafiq ila aqwamith thariiq.






























SHIDIQ DALAM TEKAD MENJAGA ASA AGAR KUAT DI DALAM DADA

Jujur dengan segala varianya, mendatangkan segala kebaikan bagi pelakunya, sebagaimana yang ditunjukan dalam hadita nabi saw,
إن الصدق يهدي إلى البر
''Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan''(Hr. Muslim)
adanya ''alif lam'', dalam kata ''as shidq'' maupun 'al bir bias berfungsi lil istiqhraaq, yanki mencakup segala benruk kejujuran dan segala bentuk kebajikan.
Kebaikan dalam berhubungan dengan allah, maupun kebaikan yang terkait dengan hubungan sesame manusia. Mencakup keberuntungan di dunia, maupun di akhirat.
Kesempurnaan maslahat dan kebajikan, berbanding lurus dengan kadar kejujuran, begitu sebaliknya, berkurangnya nilai satu jenis kejujuran, menjadi sebab berkurang pula nilai kebaikan yang terkait dengannya.

Shidqul Azmi, Tulus Dalam Bertekad
Syaikh abu baker jabir al jaza'iri, menyebutkan satu bentuk shidiq adalah shidqu fil azmi, shidiq dalam tekad. Selayaknya seorang muslim memiliki pendirian yang teguh. Tidak plin-plan, goyah atau berubah ubah dalam menentukan target dan tujuan, begitupun dalam beraktivitas untuk mencapai target yang dituju. Kecuali jika memang berpindahnya haluan itu merupakan tuntunan yang secara syar'I lebih rajih, juga pertimbangan akal lebih rasikh. Jika tidak, ia akan tetap dengan pendiriannya, istiqamah dalam menjalani proses menuju cita citanya. Hal ini, akan memudahkan seorang muslim meraih banyak maslahat dalam hal urusan duniawi, maupun ukhrawi.
Dalam hal ukhrawi, allah memuji orang yang shidiq dalam pendirian,

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
''Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya),(qs. Al ahzab:23)
Allah juga mencela, orang orang yang lemah dalam tekad, plin plan dan tidak setia dengan cita cita baiknya. Allah berfirman,
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آَتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ () فَلَمَّا آَتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ
''Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh, Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).(qs. At taubah:75-76)

Tekad Lemah, Tujuan Sulit Dijamah
Dengan tekad yang tulus, maslahat bisa didapat, tujuan baik bisa terwujud dan kebiasaan buruk bisa dihentikan. Jika yang kita dapat justru sebaliknya, maka ketulusan azam kita pantas dipertayakan. Meski ada kemungkinan factor lain, tapi factor ini sangat dominan. Beberapa sering kita beralih haluan sebelum mencapai target yang hendak kita capai. Bukan karena melihat ada target lain yang lbih strategis, tapi karena lemahnya azam dan kemauan.
Coba kita ingat, berapa kali kita pernah bertekad untuk menghafal sekian juz dari al qur'an, berapa kali pula kita berhenti ditengah jalan. Berapa cara pula metode bejar bahasa arab yang pernah anda coba, namun adakah satu metode saja yang dipelajari hingga khatam dan tuntas? Andai saja azam kita shidiq, tekad kita tulus, insya allah akan ada jalan keluar, sperti kata pepatah
 إذا صدق العزم و ضح السبيل
'' Jika tekad itu tulus, niscaya jalan keluar akan mulus.''
Kita juga sering mendengar, orang yang memilki kebiasaan buruk, sangat sulit untuk meniggalkannya. Ingin berhenti merokok, mulut tersa kecut, ingin berjamaah shalat subuh, serangan rasa kantuk membuatnya takluk, juga kebiasan buruk lain yang sulit ditinggalkan. Factor paling dominan yang mampu merubah kebiasan ini adalah tekad yang tulus. Ketika seseorang mantap untuk merubahnya, tegas terhadap apa yang menjadi keputusan, lebih mudah baginya untuk merubah kebiasaannya. Toh, banyak tips tentang bagaimana berhenti merokok, banyak trik agar bisa bangun pagi dan tidak terlambat shalat subuh. Tapi jika kemauan lemah, tips dan trik tidak menjadi banyak berguna.

Menjaga Asa, Agar Kokoh Di Dalam Dada
Mudah berubah ubah tujuan, gampang pindah haluan, sering menjalani aktivitas yang putus ditengah jalan adala gejala lemahnya azam, kurangnya shidiq dalam kemauan. Karenannya, di samping meluruskan tujuan dan mematangkan perencanaan, menjaga kemauan agar tetap terjaga ketulusannya menjadi penting. Hal itu bisa dilakukan dengan beberapa cara.
Pertama, hendakya focus pada tujuan. Tidak gampang terpengaruh dengan hal hal yang justru akan membuyarkan cita cita. Ini bisa ditempuh dijaga konsistenya denganbergaul bersama orang yang memiliki tujuan yang sama, juga menjauhkan diri dari unsure unsure yang bisa merusak ketulusan hatinya.
Kedua, tekad yang harus diiringi dengan amal yang nyata. Tidak mungkin orang yang memiliki cita cita, namun dia diam dan tak ada persiapan untuk melangkah mendekat ke arah tujuannya. Maka allah membantah orang yang mengaku hendak berjihad, namun ia tidak mau bersiap siap.
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ
''Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu."(Qs. At taubah: 46)
Senantiasa mengingat pahala dan akibat yang baik bagi orang yang memiliki tekad yang tulus, juga menjadi sarana kokohnya tekad didalam dada. Sebagaimana diketahui, bahwa tekad kuat untuk meraih tujuan yang mulia, menempatkan seseorang pada derajat yang mulia, meskipun ia belum, atau bahkan tidak mencapai finis perjalanan. Nabi saw menggambarkan, dengan tekad yang tulus, seseorang akan mendapat pahala syahid, meskipun ia mati di atas kasurnya,
مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ صَادِقًا بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ
''Barang siapa yang memohon kepada allah untuk mati syahid dengan tulus, maka allah akan mendudukan dia dalam tingkatan syuhada', meskipun ia mati diatas kasurnya.''(Hr. Muslim)
Semoga allah mengkokohkan tekad kita untuk meraih kebajikan. Amin.
























BALASAN KEZHALIMAN

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ () وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ
''Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang lalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.''(Qs. Ibrahim: 42)
Makna dzalim adalah wadh'u asy 'syai fighairihi maudhu'ihi, menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Karena itulah, zhalim yang paling zalim adalah mempersekutukan allah ta'la,
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ
''Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami". Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: "Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang lalim itu,''(Qs.ibrahim:13)
Orang musrik telah berlaku tidak pantas terhadap allah. Mereka sejajarkan allah dengan makhluk atau bahkan benda mati atau tidak bisa mendatangkan maslahat, tidak pula mampu menolak madharat, maha suci allah dari yang mereka sifatkan.
Seseorang yang bermaksiat juga disebut zhalim terhadap diri sendiri. Karena tatkala ia bermaksiat, berarti ia mencelakakan dirinya. Padahal, sudah semestinya seseorang mencitai dirinya sendiri dan membawanya menuju keselamatan. Karena itulah, diantara bentuk taubat adalah membaca do'a,
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi".(Qs. Al araf:23)

Zhalim Terhadap Orang Lain
Seseorang juga dikatakan zhalim apabila memperlakukan orang lain sebagaimana mestinya. Baik berupa menyakiti secara fisik maupun psikis tanpa alas an yang dibenarkan oleh syariat. Allah memberia ancaman bagi orang yang menzhalimi orang lain,
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ () وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ
''Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang lalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.''(Qs. Ibrahim: 42)
Tentang ayat ini imam at thabari berkata, ''ayat ini adalah ancaman bagi orang yang zhalim sekaligus penghibur bagi orang yang dizhalimi.''
Alangkah bijak apabila kita terlebih dahulu bercermin, adakah bentuk kedzahliman yang kita timpakan atas saudara kita sesama muslim. Belum tentu kita telah bebas dari ancaman itu. Bisa jadi kita telah melupakan ribuan kezhaliman yang telah kita perbuat di masa lalu, tapi allah tidak pernah lupa.
Bisa jadi kita telah berhutang lalu menggugurkan niat untuk membayarnya, karena meyangka bahwa orang yang berhak telah melupakannya. Dan memang, boleh jadi pemilik piutang telah lupa, tapi allah tidak akan melupakannya.
Bisa jadi kita telah menipu takaran dan timbangan, baik saat membeli atau menjual. Meskipun yang ditipu tidak menuntut di dunia, atau bahkan tidak menyadarinya, namun allah mengetahuinya. Begitupun dengan cacian, calaan, atau kata kata yang menyakitkan tertuju kepada saudaranya muslim. Dan masih banyak lagi berbagai bentuk kezhaliman yang mungkin pernah kita lakukan, atau bisa jadi hingga sekarang sebagian kezhaliman itu masih berlangsung.
Balasan yang tidak disegerakan di dunia, bukan berarti allah tidak menghitungnya, tidak pula berarti hapus begitu saja. Imam ahmad bin hambal juga mengigatkan, ''ketahuilah bahwa kebaikan tidak akan sia sia, dan dosa tiada dilupakan begitu saja.''
Bisa jadi seseorang telah merasa aman dari akibatnya, namun tiba tiba balasan dating seketika, sehingga mata terbelakak karenanya, pikiran linglung dibuatnya, dan hatipun hampa karena tak ada persiapan untuk menghadapinya. Di dalam shahihain, di sebutkan bahwa rasulallah saw bersabda,
إن الله يملي للظالم . فإذا أخذه لم يفلته
''sesungguhnya allah menangguhkan balasan bagi orang yang zhalim, hingga ketika ia membalasnya, allah tidak akan melepaskannya.''
lalu beliau membaca firman allah,
وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ
'' Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.''(Qs. Hud:102)

Taubat Dari Kezhaliman  
Sungguh, menghadap allah dalam kondisi dizhalimi lalu bersabar sehingga mendapatkan pahala, itu lebih baik dari pada datang dalam keadaan berlaku zhalim. Yang karenanya, kebaikan kita bisa jadi akan ludes untuk melunasi kezhaliman yang kita lakukan, na'uzhu billah.
Diriwayatkan oleh abu hurairah, bahwa rasulallah saw, bersabda,
''tahukah kalian, siapahakah orang yang bagkrut itu?''para sahabat menjawab, ''orang yang bangkrut menurut kami adalah orang tidak memiliki dirham, tidak memiliki harta.''lalu nabi saw, bersabda, ''orang yang bangkrut diantara umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, shaum dan zakat. Akan tetapi ia juga pernah mencela pulan, menuduh si fulan, memakan harta fualn, menumpahkan darah fulan dan memukul sifulan. Maka kebaikan yang ini untuk fulan yang ini, kebaiakan yang lain untuk fulan yang lain, hingga ketika kebaikannya telah ludes sementara kezhaliman belum terlunasi, maka keburukan orang yang dizhalimi akan diambil, lalu ditimpakan kepadanya dan iapun dimasukan ke neraka.''(Hr. Muslim)
Inilah sebenar benar orang yang bangkrut. Seluruh modal kebaikannya habis untuk melunasi hutang kezhalimannya, bukan keburukan orang lain ditimpakan kepadanya hingga menyebabkan ia masuk neraka. Sempurnalah kerugian dan penderitaannya, nas'alullah 'afiyah.
Tak ada jalan lain, selain bertaubat dari segala bentuk kezhaliman, mengkuinya dan berhenti melakukanya, menyesal bertekad untuk tidak mengulangi, dan segera menyelesaikan urusan yang berhubungan dengan manusia. Melunasi hutang, atau beniat untuk melunasinya jika belum mampu. Mengembalikan hak hak orang lain yang telah diambilnya selagi mampu dan mungkin, juga memperbaiki nama baik orang yang telah dicemarkannya tanpa alas an yang benar.  
Adapun taubat dari ghibah atau menggunjing, adalah kita sebut kebaikan orang yang pernah kita sebut keburukannya dihadapan orang yang sama. Jika tidak mampu, hendaknya ia berusaha semampunya. Pendapat yang rajih menurut syaikhul islam ibnu taimiyah adalah, tidak ada tuntutan untuk minta maaf kepada orang yang telah digunjing, kecuali jika berita itu sampai kepadanya. Beliau mengatakan, ''la tu'dzi akhaaka marratain'', jangan kamu sakiti saudaramu dua kali.'' Meminta maaf berarti memberitahukan bahwa anda telah mengunjingnya. Dan ini berarti telah menyakitinya untuk kali kedua. Pertama menggunjingnya, kedua pemberitahuan itu sangat mungkin menyakiti hatinya. Terkecuali jika informasi itu sudah sampai kepadanya, maka tidak mengapa kita mengakuinya, lalu meminta maaf kepadanya. Wallahhu a'lam.  



[1]Di Ambil Dari Tulisan Abu Umar Abdillah

0 komentar:

Posting Komentar