Copyright © ISLAMIND
Design by Dzignine
Selasa, 13 Desember 2011

KERJA KERAS DI DUNIA, SENGSARA DI AKHIRAT


KERJA KERAS DI DUNIA, SENGSARA DI AKHIRAT

(qs. Al ghasiyah: 3-4)
Kita pantas salut melihat orang yang kerja keras mengais rezeqi, membanting tulang dan menguras keringat. Tapi rasa salut itu akan berbalik menjadi belas kasihan, ketika kita tahu, bahwa ternyata ia adalah orang yang tidak memperhatikan urusan akhiratnya. Tidak shalat tidak ta’at dan bahkan uang yang didapatkan tidak seberapa banyak ia hasilkan dari kerja kerasnya digunakan untuk bermaksiat. Betapa tidak, hasil dari jerih payahnya bukan kebahagiaan, tapi kepayahan yang lebih dahsyat dari kepayahan yang dialami di dunia. (qs. Al ghasiyah:3-4)
Kerja Keras Di Akhirat
Banyak variasi pendapat para ulam dalammentafsirkan firman allah, ‘’bekerja keraslagi kepayahan. ‘’apakah itu terjadi di dunia, ataukah di akhirat, yakni di neraka. Al fahkru razzi dalam tafsirnya menyebutkan tiga pendapat, ‘’bisa jadi segala kerja keras dan kepayahan yang dimaksud semua dialami di dunia, bisa semuanya terjadi akhirat, dan bisa jadi pula sebagian kepayahan itu dialami di dunia, sebagian lagi dialami di akhirat.’’beliau tidak memberikan keterangan manakah mana yang lebih rajih di antara tiga pendapat tersebut.
Namun, tak ada ulama yang membantah, bahwa di neraka, penghunia akan mengalami kerja keras dan kepayahan. Dan tidak ada yang lebih payah dari kepayahan yang dialami dari kepayahan yang dialami oleh penduduk di neraka.
Hasan al basri rhm, mengatakan bahwa,’’mereka dibuat kerja keras dan lelah di neraka oleh rantai dan belenggu.’’
Berbeda dengan kepayahan di dunia yang berjeda dan ada kesempatan untuk istirahat. Di neraka kepayahan akan berlangsung selamanya. Sementara maknannya duri yang tidak mengemukkan dan tidak pula menghilangkan rasa lapar. Tak ada pula minuman selain air mendididh yang amat sangat panasnya.
Kerja  keras di dunia untuk di dunia
Meskipun makna sudah pasti dalam ayat tersebut adalah kepayahan di hari kiamat sebagaimana diindikasiakan ayat sesudah dan sebelumnya, namun tidak dipungkiri, bahwa yang mereka alami di neraka itu karena ulahnya di dunia. Sehingga banyak ulama yang mengaitkan kerja keras dan kepayahan di akhirat itu sebagai balasan atau tindakan mereka yang sesat di dunia. Ibnu abbas berkata,’’yakni mereka sudah bekerja keras dan kepayahan di dunia, lalu pada hari kiamat dia masuk kedalam neraka yang sangat panas.
Kerja keras di dunia yang dimaksud bisa bermakna orang yang hanya mencari kenikmatan di dunia semata. Mereka bersusah payah, membanting tulang, sekedar untuk mencari makan dan kebutuhan hidup semata pada saat yang bersamaan, mereka enggan untuk mengabdi kepada allah, meniggalkan amal yang bisa mereka bahagia dan selamat di akhirat. Atau bahkan kerja kerasnya dalam rangka bermaksiat kepada allah. Inilah pendapat yang diutarakan oleh ikrimah dan as suddi, ‘’di dunia mereka kerja keras di dalam maksiat, sehingga merasakan kepayahan di neraka dengan azab dan kesengsaraan.’’
Alangkah mengenaskan nasib mereka. Di dunia tak menderita, di akhirat sengsara selamanya. Lantas kapan mereka bisa mendapatkan kebahgian? Penderitaan mana yang lebih berat daripada penderitaan ini.
Islam menghasung kita untuk kerja keras. Jika kemudian hasil jerih payah yang di dapatkan belum mencukupi kebutuhan, jangan  samapi membuat kita berputus asa untuk mendapatkan kenyamanan di akhirat. Bahkan, bagi orang yang beriman, ketika mendapatkan dirinya hidup dalam kemiskinan dan pederitaan, dia terhibur dengan keyakinan, bahwa kemiskinan itu hanyalah sementara, kelak di jannah takkan lagi terasa bekasnya. Berganti dengan kenikmatan tiada tara. Dengan motivasi ini, mereka akan memperhatikan akhiratnya. Bersabar dalam menghadapi cobaan, sabar dalam menghadapi kataatan, dan bersar agar tidak tergiur dengan cara cara maksiat untuk mendapatkan rizqi.
Mereka itulah orang orang yang cerdas, bahkan lebih cerdas daripada orang orang kaya yang menjadikan dunia yang begitu singkat sebagai tujuan akhiratnya, mereka memakmurkan mereka dengan cara merusak akhiratnya. Mereka memilih untuk menderita selamanya, asalkan bisa sesat bersenang senang di dunia. Sungguh merupakan pilihan yang picik dan tidak sesuai dengan nalar yang sehat.
Kerja Keras Untuk Akhirat, Tapi Sesat
Penafsiran lain dari ‘kerja keras dan berpayah’ dari surat al-ghasiyah ini adalah kerja keras untuk mendapatkan pahala, namun berangkat dari keyakinan yang sesat, atau cara yang salah. Syaikh as sanqhithi menukil sebagai penafsiran, ‘’bahwa maksud ayat itu adalah, ‘’mereka kerja keras dan kelelahan dalam menjalankan ibadah yang sesat, seperti para pendeta dan uskup, begitupun dengan para pelaku bid’ah.
Kelompok ini juga sangat memperhatiakan. Betapa tidak, mereka merasa telah menjalankan ibadah, bersusah payah untuk berbuat baik dalam perasangkaannya, namun ternyata sesat,
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.(al kahfi:103-104)
Mereka salah dalam keyakinan, keliru pula dalam mejalankan. Sementara mereka menyangka di atas kebenaran. Karena itulah, ketika umar bin kahtab melewati seorang pendeta yang sedang ‘khusuk beribadah’ , beliau berhenti sejenak dan memperhatikannya. Lalu beliau menangis sembari membaca firman allah, ‘amilatun nasibah, taslanaran hamiya, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang panas (nereka).’’ Karena apa yang dilakukan pendeta itu adalah kekhusuan dalam kekafiran.
Termasuk dalam katagori ini, mereka yang beribadah, baik shalat, dzikir dan amalan lain yang tidak mengikuti sunnah. Mereka yang mengikuti bid’ah yang diada adakan. Syaikh as shinqithi mengingatkan tatkala menafsirkan ayat ini, ‘’hendaknya takut akan ayat ini, orang yang beramal tanpa ilmu, tapi beramal diatas bid’ah dan kesesatan.
Umumnya, orang yang melakukan bid’ah memiliki prasangka akan mendapatkan pahala lebih dengan mejalaninya. Padahal, bukan itu amal yang dikehendaki oleh allah. Syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan benar. Ikhlas adalah beramal untuk allah, sedangkan benar adalah sesuai dengan sunnah rasulallah saw. wallahu alam bis shawab.    



0 komentar:

Posting Komentar