Copyright © ISLAMIND
Design by Dzignine
Tampilkan postingan dengan label Wanita dan Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wanita dan Keluarga. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 17 Desember 2011

Mengangkat Kedua Tangan Saat Berdoa Dan Mengusapkan Wajah Setelahnya


Mengangkat Kedua Tangan Saat Berdoa Dan Mengusapkan Wajah Setelahnya

·         Hukum Mengangkat Tangan Ketika Berdoa
Imam An Nawawy berkata didalam kitab Al Majmu’: “Sesungguhnya mengangkat kedua tangan saat berdoa adalah mustahab (lebih disukai)”, dengan dalil sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Anas ra, beliau berkata:
إن النبي ص استسقى ورفع يديه وما فى السماء قزمه فثار سحاب امثال الجبال ثم لم ينزل من منبره حتى رأيت المطر يتحادر من لحيته (رواه البخارى ومسلم)
“Sesungguhnya Nabi Muhammad saw sholat istisqo’ dan mengangkat kedua tangan beliau, sedangkan di langit terdapat gumpalan awan. Kemudian awan itu naik ke atas yang serupa seperti burung dan beliau tidak turun dari mimbarnya, sampai saya melihat hujan bercucuran dari jenggot beliau”. HR. Muslim, Bab Ad Du’a fil Istisqo’ (897), HR. Bukhori Bab Istisqo’ fi Masjidil Jami’ (1013).

Mama Tidak Masak


Mama Tidak Masak

- “Mama ga masak, Sa.” Glek, lambungku kecewa. Getar-getar nestapanya kian memilukan. Lapar...lapaar, erangnya berkali-kali. Merintih, sakit. Sehabis pulang kerja malam ini, aku tahu hanya satu itu saja permintaannya. Tiada lain. Tapi, itupun tak terpenuhi. Aduuh, gimana sih Mama? Aku harus makan apa malam ini?!
“Mama masak mi aja, ya?”
Risalah langit terngiang-ngiang. Pekak telinga, hati. Tentang dosa durhaka pada orang tua. Malin Kundang. Akhirnya, mau cemberut, ditahan sekuat mungkin. Muka didatarkan, haram ditekuk. Bayangan tentang makan enak, sayur hijau berkuah, dan lauk yang menggiurkan, terpaksa kusingkirkan. Itu sudah tak mungkin lagi malam ini, kecuali soal nasi. Banyak pulennya di magic jar, yang umurnya sudah bertahun-tahun itu. Menyerah, aku mengangguk. Mama mulai memasak.

Kuntum Cintanya...


Kuntum Cintanya....

- “De’… de’… Selamat Ulang Tahun…” bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku. “Hmm…” aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.
Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.

Kuku, Gigi, dan Cinta Seorang Perempuan


Kuku, Gigi, dan Cinta Seorang Perempuan

- “Cinta laki-laki seumpama gunung. Ia besar tapi konstan dan (sayangnya) rentan, sewaktu-waktu ia bisa saja meletus memuntahkan lahar, menghanguskan apa saja yang ditemuinya. Cinta perempuan seumpama kuku. Ia hanya seujung jari, tapi tumbuh perlahan-lahan, diam-diam dan terus menerus bertambah. Jika dipotong, ia tumbuh dan tumbuh lagi.”
Perumpamaan di atas terilhami melalui sebuah dialog dalam adegan film “Bulan Tertusuk Ilalang” karya Garin Nugroho. Betapa menakjubkan. Dan kalimat itu mengingatkan saya pada kenangan tentang sahabat saya dan mamanya ketika masa-masa SMP-SMU dulu.
Kala itu, nyaris setiap hari saya main ke rumahnya yang jauh di selatan kota. Saya tahu dia anak orang kaya. Papanya, pimpinan sebuah instansi pemerintah terkemuka di kota saya dan mamanya adalah ibu rumah tangga biasa. Saya tak heran mendapati barang-barang bagus dan bermerk di rumahnya yang masih dalam tahap renovasi. Sofa yang empuk, televisi yang besar. Saya hanya bisa berdecak kagum sekaligus iri.

Kita Cerai Saja....


Kita Cerai Saja....

- Saat aku dilamar suamiku, aku merasa bahwa akulah wanita yang paling beruntung di muka bumi ini. Bayangkan dari sekian juta wanita di dunia ini, aku yang dia pilih untuk jadi isterinya. Kalau aku persempit, dari sekian banyak wanita di negara ini, di propinsi ini, di kota ini, di rumah ibuku yang anak perempuannya 3, aku yang paling bungsu yang dipilih untuk jadi isterinya! Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.
Aku berusaha keras menjadi isteri yang baik, patuh pada suami, menjaga kehormatanku sebagai isterinya, menjadi ibu yang baik, membesarkan anak-anakku menjadi sholih dan sholihah. Aku memanfaatkan pernikahanku sebagai ladang amalku, sebagai tiket ke surga.
Walaupun begitu... hidup seperti halnya makanan penuh dengan bumbu. Ada bumbu yang manis, yang pahit, yang pedas, dan lain-lain. Aku juga menghadapi yang namanya ketidakcocokan atau selisih paham dengan suamiku,
baik itu tidak sepaham, kurang sepaham, agak sepaham, hampir sepaham, atau apapunlah itu. Tapi aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku mencoba berpikiran terbuka, mengakui kebenaran bila suamiku memang benar dan mengakui kesalahan bila aku memang salah. Aku mencoba bertuturkata lembut menegur kesalahan suamiku dan membantunya memperbaikinya agar ia merubah sikapnya. It’s all about compromising.
Namun apalah daya... pada akhirnya, terucap pula kata itu dari bibir suamiku ”kita cerai saja!”… hanya karena sebuah masalah kecil yang tanpa sengaja menjadi besar.
Saat itu seperti kudengar suara petir menggelegar di kepalaku. Arsy pun berguncang untuk ke sekian kalinya. Dan hatiku hancur berkeping-keping. Aku menjadi wanita paling pilu sedunia.
Tak ada yang kupikirkan selain... yah kita memang harus berpisah!

Keterikatan Hati Ini


Keterikatan Hati Ini

- Seorang hamba yang dhoif, merasakan cintanya yang amat sangat pada kekasih hatinya, belahan hatinya dan tempat ia berbagi rasa. Kekasih hati yang sangat ia cintai
Demikian besar cinta dan keterikatan hati tersebut, ia pelihara dan sirami karena cinta Allah semata. Berdua sudah demikian lama merasakan nikmatnya rasa sakinah mawaddah warahmah dalam sebuah biduk rumah tangga.
Sering kali mereka dipisahkan oleh jarak dan waktu dan berkali kali itu juga rasa kesepian rindu dan kangen yang wajar timbul dari hati manusia yang dhoif. Demikian besar arti satu sama lain sehingga ketiadaan yang satu membuat yang lain merasakan ada rongga dan lubang di dalam hati mereka, ada sesuatu yang hilang. Hati yang meronta dan menjerit karena rindu sang kekasih. Yang makin menyadarkan besarnya arti masing masing
Terhenyak sejenak dalam sebuah malam senyap dan sunyi, teringat sebuah paragraf di sebuah buku Memoar Hasan Al Banna yang mengisahkan kisah seorang syaikh bernama syaikh Syalbi

KELUARGA BAHAGIA : ANTARA ADA DAN TIADA


KELUARGA BAHAGIA : ANTARA ADA DAN TIADA


Harta yang paling berharga
adalah keluarga
mutiara yang paling indah
adalah keluarga
Penggalan syair di atas saya kutip dari theme song Keluarga Cemara. Serial sinetron keluarga yang ditayangkan RCTI setelah acara Buletin Siang. Buat saya dan juga mungkin Anda, syair lagu itu terasa menyejukkan hati. Betapa tidak, syair itu menyeruak di tengah pengapnya atmosfer kehidupan kita oleh serbuan lagu-lagu yang melulu menjajakan syahwat. Terus terang, saya menilai lagu itu sarat dengan pesan moral. Plus tentunya, serial sinetron Keluarga Cemara memang menjadi konsumsi tontonan yang relatif aman dan insya Allah ada manfaatnya bagi anak-anak kita.

Kekhawatiran yang Tak Perlu


Kekhawatiran yang Tak Perlu

- Sepincuk air mengalir deras bersama merahnya mata dan hidungmu. Punggungmu turun naik seolah menahan sebuah air bah yang hebat. “Ayo bang belajar, besok khan EHB. Kamu maunya main terus.” Kata-katamu berat.
Sementara si Abang Cuma diam dan menunduk. “Abang khan pengen main mi.” Ia menjawab pelan seolah bermaksud menahan gejolak yang bergelombang di dada istriku.
Aku merasakan dua-duanya tertekan. Istriku tertekan karena ia ingin anaknya secerdas Sangaji dalam serial Anak Ajaib yang pernah ditayangkan TVRI dulu. Ia ingin anaknya cukup bertanggungjawab untuk tidak keluar rumah dan bermain bersama teman-temannya di lapangan bulutangkis tepat di muka rumahku yang hanya dibatasai jalan.
Jelas, sebagai seorang guru, tanggungjawabnya menjadi lebih berat untuk bisa mendidik anak-anak. Bagaimana mungkin bisa mendidik orang lain kalau anaknya sendiri tidak bisa dididik.
Sementara si Abang berbeda. Naluri anak-anaknya masih sangat kuat. Teriakan gembira teman-temannya yang sedang main sepak bola di lapangan bulutangkis itu membetot-betot perhatiannya sehingga boro-boro bisa fokus, menegakan pandangan matanya saja tak bisa. Selalu saja liar dan berlari ke luar.
Sayang, aku ingat sebuah cerita yang diforward seorang teman ke emailku. Ceritanya begini :
Seorang anak sambil menangis meninggalkan sekolahnya. Ia mengenggam selembar kertas di tangannya yang dititipkan gurunya untuk diberikan kepada orangtuanya. Di atas kertas itu tertulis, "Karena anakmu terlampau bodoh dan tak mampu memahami pelajaran serta menghambat kemajuan proses pelajaran sekolah, dan demi rasa tanggung jawab kami terhadap murid-murid yang lain, maka kami sangat mengharapkan agar anak ini secara terhormat menarik diri sendiri dari sekolah."
Setelah membaca nota tersebut, ibunya tak mampu menahan sedih. Air matanya mengalir deras. Ia sama sekali tak percaya kalau anaknya itu terlampau bodoh dan tak mampu memahami pelajaran sekolah. Ia lalu memutuskan, "Kalau guru tidak bisa mengajarnya, aku akan menjadi guru bagi anakku sendiri."

Kebiasaan Ibu - Sanksi Fisik


Kebiasaan Ibu - Sanksi Fisik

Tidak disangsikan lagi bahwa sebagian pakar dan cendekiawan pura-pura tidak mengetahui akan pandangan Islam tentang sanksi fisik sebagai salah satu cara dalam memberikan pelajaran yang sangat berguna bagi siswa ataupun anak. Tentu saja, dengan sejumlah batasan yang mesti diperhatikan.

Hal itu menjadi semakin tegas, ketika kita membaca hadits. Nabi yang kita cintai, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda:

(( مروا أولادكم بالصلاة لسبعٍ، واضربوهم عليها لعشرٍ، وفرّقوا بينهم في المضاجع ))
Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat pada usia 7 tahun, dan pukullah jika ia tidak shalat pada usia 10 tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.

Karena Nama adalah Harapan


Karena Nama adalah Harapan

- Beberapa hari lalu saya menerima email dari seorang teman. Isinya tentang seorang ayah di Amerika yang memutuskan untuk menambahkan 2.0, kode yang biasa dipakai dalam produk software, di belakang nama anaknya yang baru lahir. Unik, menunjukkan bagaimana dunia komputer sudah semakin dalam memasuki kehidupan mereka.
Banyak cerita di balik proses kreatif orang tua memberi nama anaknya. Pemberian nama dengan kode software tadi hanya salah satunya. Orang tua lainnya mungkin punya cara sendiri untuk memberi nama anaknya. Ada yang bolak balik membuka buku berisi berbagai nama-nama indah, ada yang bertanya pada orang yang dianggap mengerti, ada yang memberi nama berdasarkan nama tokoh yang dikaguminya, bahkan ada juga yang memberi nama sesuai dengan kejadian alam yang terjadi ketika sang anak lahir.
Seorang yang saya kenal, menjelang kelahiran anaknya berniat membeli koran yang terbit dengan bonus pengumuman nama-nama peserta yang lulus UMPTN. Yang dilihat tentu saja bukan siapa yang masuk, karena seingat saya tidak ada anggota keluarganya yang mengikuti UMPTN ketika itu. Alasannya adalah, beliau ingin melihat nama-nama peserta yang masuk, siapa tahu ada nama yang cocok dan sesuai dengan kata hatinya.

Ingin Cepat Kaya? Buruan Menikah!


Ingin Cepat Kaya? Buruan Menikah!

- Pernikahan itu pasti indah, nyaman, dan menyenangkan. Itu garansi dari Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana tertuang dalam firmanNya yang suci (Q.S 30:21). Apabila ada ungkapan “Pernikahan tidak selamanya indah”, pasti ada eror yang dilakukan oleh para pelaku pernikahan. Entah itu berupa pelanggaran atas rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam proses pencapaiannya. Ataupun sikap manusia yang makin tidak apresiatif terhadap kewajiban universal dari Pencipta alam semesta ini.
Islam memandang, pernikahan bukan saja sebagai satu-satunya institusi yang sah, tempat pelepasan hajat birahi manusia terhadap lawan jenisnya. Tapi yang tak kalah penting adalah, pernikahan sanggup memberikan jaminan proteksi pada sebuah masyarakat dari ancaman kehancuran moral dan sosial.

Hamil Tanpa Masalah


Hamil Tanpa Masalah

Kehamilan yang pertama adalah sesuatu yang sangat penting bagi perempuan daripada kehamilan yang ke dua atau ketiga dan seterusnya. Kehamilan pertama, biasanya perempuan banyak mengalami kekhawatiran; takut bercampur was-was, juga bahagia. Kecemasan ibu yang sedang hamil biasanya sekitar hamilnya, masa kelahiran, capeknya. Juga bahagia ketika para tetangga dan kawan memberikan ucapan selamat dan do'a atas kehamilannya itu.

Oleh karena itu, yang terpenting bagi ibu hamil adalah ada orang yang memotivasinya, membesarkan hatinya, orang yang selalu bersamanya, membantunya. Untuk semua ini yang paling berpengaruh baginya adalah suaminya. Kehamilan pertama kali juga urgen bagi para dokter. Sebab banyak dari kasus naiknya kadar gula, tekanan darah dan yang lainnya, terjadi pada kehamilan pertama lebih banyak daripada pada kehamilan kedua, ketiga, dan seterusnya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan kesehatan yang terbaik, ibu yang hamil mesti rutin datang ke dokter sehingga mereka bisa melakukan monitoring, evaluasi, dan mengantisipasi serta menyelesaikan permasalahan kesehatan yang dialami ibu hamil tersebut. Disamping jika ia rutin konsultasi dengan dokter, bisa menenteramkan jiwanya, membesarkan jiwanya untuk siap melakukan persalinan secara normal.

Mandi Bareng...Mesra Yang Ditabukan??


Mandi Bareng...Mesra Yang Ditabukan??  







Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku biasa mandi bersama dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bejana).” (HR. Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah)

Hadits di atas menjelaskan kepada kita, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang hamba pilihan Allah, Rasul terakhir, teladan kita; tidak segan-segan untuk mandi bersama dengan istri beliau, dalam hadits di atas, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mandi bersama dengan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam satu kamar mandi dengan bak yang sama.

Betapa mesra apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan istri beliau. Meskipun beliau sebagai seorang yang super sibuk mengurus ummat, namun beliau tidak lupa untuk menjalin kemesraan dengan istri-istri beliau.

Mandi bersama antara suami dan isti bukan suatu hal yang tercela. Toh, junjungan kita, teladan ummat ini, manusia terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya. Apabila hal ini merupakan hal yang tercela, tentulah beliau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan melakukannya.

Diabets Tidak Halangi Menyusui


Diabets Tidak Halangi Menyusui

Menyusui secara alami (dengan ASI) kini sudah menjadi hal yang biasa di negara Barat khususnya, dan dunia pada umumnya. Adapun kita, muslimin, maka sungguh kita telah mengikuti metode pengajaran agama kita yang begitu hanif, yaitu menyusui bayi selama dua haul (dua tahun) untuk memberikan masa yang cukup kepada bayi dalam pemeliharaan dan membangun jaringan organ tubuhnya, serta memberikan kesempatan kepada ibu untuk mengembalikan keadaannya dari hal-hal yang hilang ketika mengandung seperti zat iodium dan zat lainnya. Hal ini karena persiapan sang ibu dalam menjaga berat badan dan menghilangkan kelebihan zat-zat yang berbahaya dari badannya.

Dan Nabi Muhammad shallallhu 'alaihi wasallam pun dahulu disusui oleh Halimah Sa'diyah, padahal saat itu juga ada susu sapi, kambing, atau yang lainnya. Sebab, pada ASI ada rahasia ilahi yang sampai kini kita tidak mengetahui hikmahnya kecuali baru sedikit sekali.

Cerewetnya Orang Tua dan Temperamentalnya Anak


Cerewetnya Orang Tua dan Temperamentalnya Anak

Cerewetnya sebagian orang tua kepada anak-anaknya bisa mengakibat sejumlah, seperti anak ikut menjadi cerewet, beringas, suka menyeleweng. Demikian juga "ketidaksepakatan" kedua orang tua dalam menentukan teknik atau model pendidikan anak, seringnya perselisihan kedua orang tua di depan anak-anak, akan mengakibatkan hal yang sama seperti di atas.

Sesungguhnya penyimpangan yang dilakukan anak-anak dalam bentuk cerewet, dan suka menyeleweng, atau pun beringas tidaklah mungkin bisa dikontrol oleh kedua orang tua, karena sifat mereka itu adalah hasil dari meniru kedua orang tuanya ketika mereka menghadapi masalah dengan cara cerewet, kekerasan, dan berlebih-lebihan.

Sesungguhnya perilaku kedua orang tua dengan gambaran temperamen-temperamen di atas adalah menunjukkan ketidakdewasaannya. Oleh karena itu, keduanya wajib untuk berperangai lembut dan bijak dalam memberikan solusi terhadap masalah mereka, baik yang berkenaan dengan diri mereka sendiri maupun masalah dengan anak-anak atau dengan orang lain.

Cara Bijak Memarahi Anak


Cara Bijak Memarahi Anak

- Sebagaimana senyuman yang damai, kadang kita harus memarahi anak. Ini bukan berarti kita meninggalkan kelembutan, sebab memarahi dan sikap lemah-lembut bukanlah dua hal yang bertentangan. Lemah-lembut merupakan kualitas sikap, sebagai sifat dari apa yang kita lakukan. Sedangkan memarahi -bukan marah-merupakan tindakan. Orang bisa saja bersikap kasar, meskipun dia sedang bermesraan dengan istrinya.
Persoalan kemudian, kita acapkali tidak bisa meredakan emosi pada saat menghadapi perilaku anak yang menjengkelkan. Kita menegur anak bukan karena ingin meluruskan kesalahan, tetapi karena ingin meluapkan amarah dan kejengkelan. Tidak mudah memang, tetapi kita perlu terus-menerus belajar meredakan emosi saat menghadapi anak, utamanya saat menghadapi perilaku mereka yang membuat kita ingin berteriak dan membelalak. Jika tidak, teguran kita akan tidak efektif. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka justru semakin menunjukkan "kenakalannya".
Sekali lagi, betapa pun sulit dan masih sering gagal, kita perlu

Bersolek Untuk Isteri, Kenapa Tidak?


Bersolek Untuk Isteri, Kenapa Tidak?

- Suami perlu bersolek untuk isteri? Pertanyaan yang mungkin jarang sekali mencuat dalam wacana kehidupan pasangan suami-isteri (pasutri). Sebab, mungkin kita sudah terbiasa dengan ungkapan “isteri harus berdandan untuk suami”. Sehingga kita lupa bahwa berdandan bukan hak monopoli isteri. Seolah suami tak dituntut untuk bersolek di hadapan isterinya. Jelas jika pemahaman kita demikian adalah keliru alias kita telah melakukan diskriminasi gender dalam hal bersolek.
Padahal Rasulullah saw adalah seorang suami perlente yang selalu menjaga penampilan dan kebersihannya di depan para isteri beliau. Ummul Mu’minin ‘Aisyah r.a pernah ditanya oleh seseorang; “Apa yang pertama kali dilakukan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam setelah masuk rumah?”
‘Aisyah menjawab; “Bersiwak.” (diriwayatkan Muslim).

Bermu'amalah dengan Suami


Bermu'amalah dengan Suami

Di bawah ini adalah sejumlah nasihat untuk para wanita secara umum dan para isteri secara khusus sebagai bahan pertimbangan dalam bermuamalah dengan suami dalam kehidupan sehari-hari di dalam rumah tangga, menghadapi masalah, ketidakcocokan, kekurang sregan, dan lain-lainnya.
§  Apakah suami memahami keinginanmu. Andai suamimu termasuk orang yang bisa memahami keinginanmu, maka usahakanlah mencari waktu yang munasib (sesuai) untuk memberitahu suami bahwa engkau ingin berbicara dengannya dan mengungkapkan permasalahanmu, misalnya pada malam hari selepas anak-anak tidur dan suasana kondusif. Dan hindarilah waktu-waktu dimana anak-anak masih ramai, sebab hal itu akan menyebabkan suamimu tidak perhatian dengan apa yang engkau sampaikan, sebab sebagian suami terkadang hambar dalam diskusi keluarga karena perhatiannya terganggu dengan hal lain, dan itu bukan karena maksud dia begitu, maka perhatikanlah. Adapun jika suamimu tidak pandai memahami keadaanmu bahkan terkadang malah semakin bertambah jauh, maka usahakanlah untuk langsung berbicara dengan suamimu dan mulailah dari dirimu dalam membicarakan masalah yang kamu hadapi. Maka jarang sekali suami yang akan terus diam bahkan dia akan meresponmu dengan baik. Jika suamimu demikian adanya, maka ia termasuk kelompok orang yang tidak memberi kecuali sampai engkau memberi kepadamu (berkepribadian covert).

Bagaimana Meminang secara Islami?


Bagaimana Meminang secara Islami?

Assalamu‘alaikum warahamatullahi wabarakatuh
Tunangan bahasa Fiqihnya adalah Khitbah atau meminang. Khitbah atau meminang adalah proses selanjutnya setelah ikhtiyar dan ta’aruf. Dalam kitab hadits maupun fiqh disebutkan bahwa melihat dilakukan saat khitbah. Bab melihat pasangan dimasukkan ke dalam bab khitbah. Dan ketika yang dilihat tidak cocok maka secara spontan calon mempelai baik pria atau wanita dapat menolak secara langsung atau melalui perantara, seketika atau dalam beberapa hari setelah itu. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq: “Khitbah adalah muqaddimah (permulaan) pernikahan dan disyari’atkan Allah sebelum terjadinya aqad nikah agar kedua calon pengantin mengenali calon pasangannya satu sama lain. Sehingga ketika seseorang maju pada proses aqad nikah dia dalam kondisi telah memperoleh petunjuk dan memiliki kejelasan (tentang calonnya) “.

Bagaimana Membantu Anak dalam Memahami Fikirannya


Bagaimana Membantu Anak dalam Memahami Fikirannya

Untuk membantu anak-anak dalam memahami fikiran mereka, ikutilah beberapa contoh berikut ini:
1. Menjadi Pendengar yang Baik:
Anak merasa bersalah ketika mencoba untuk mengungkapkannya kepada salah satu orang tuanya, sedangkan orang tuanya tidak menatap sembari diam.
Contoh Pertama:
Sa'ad (5 tahun) datang kepada Bapaknya yang tengah membaca koran, dan berkata, "Pak, Ahmad telah memukulku". Sang Bapak tidak menoleh sedikitpun. Sa'ad bertanya, "Bapak dengar nggak...?"
Sang Bapak menjawab dengan kedua matanya tetap menatap ke arah koran yang dibacanya, "Iya, aku mendengar, Ayo ngomonglah, ada apa?"
Sa'ad berkata, "Lalu, akupun balas memukul Ahmad, tapi Ahmad memukul aku lagi, ... Pak,... dengar nggak.... ?"
Bapak menjawab, "Teruskan ceritamu".
Sa'ad, "Bapak nggak mendengarkan aku ngomong".
Bapak menjawab, "Lho, Bapak dengar kok, Bapak bisa mendengar sambil membaca koran".
Maka pergilah Sa'ad dan masuk kamar sambil sedih karena tidak diperhatikan Bapaknya.

Contoh Kedua: