Copyright © ISLAMIND
Design by Dzignine
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 17 Desember 2011

AMAL YANG TIADA HENTI


AMAL YANG TIADA HENTI
Fitnah apapun yang terjadi, perubahan jiwa merupakan titik tolak sebuah perubahan serta jalan yang amat tepat. (Qs. Ar Ra`d : 11). Upaya membina jiwa merupakan masalah yang tidak mengenal kata henti dan lelah. Dia merupakan proses berkesinambungan sepanjang nyawa masih ada. (Qs. Al Hijr : 99).
Yakinilah, satu detik yang tidak memiliki saham dalam pembangunan jiwa, merupakan alamat kehancuran. (Qs. Al Muddatstsir : 37) (Qs. Asy Syams : 9-10)
Di dalamnya hanya ada dua jalan, dan tidak ada jalan lain yang ketiga.
Beberapa upaya membina jiwa adalah sebagai berikut :
1. رعاية الإيمان  (Memelihara Iman).
Jika kita renungkan perjalanan sejarah, kita dapat menyaksikan bahwa penggerak utama terjadinya pertempuran di alam dunia ini adalah masalah aqidah, iman atau tauhid. (Qs. 2 : 109 & 120) (Qs. Al Buruj : 8)

HARAMNYA HASAD


HARAMNYA   HASAD



Hasad atau dengki adalah  menginginkan hilangnya nikmat dari seseorang. Orang yang dengki hatinya akan sakit manakala melihat saudaranya mendapat nikmat. Ini adalah  penyakit hati yang  berbahaya dan sedikit sekali orang yang  selamat darinya.
Dengki itu haram karena Rasulullah e pernah bersabda, "Dan janganlah kalian saling mendengki". (HR. Muslim).
Hikmah dari diharamkannya hasad atau dengki ini ialah karena ia suatu bentuk penyanggahan terhadap Allah I. Orang yang dengki itu lisannya berkata, 'Ya, Tuhan, kenapa Engkau anugerahkan kepada si Fulan nikmat berupa harta, kedudukan atau nikmat yang lainnya dan tidak Engkau anugerahkan kepadaku?

Hasad adalah akhlak kaum Yahudi
Allah I berfirman, Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya. (QS. 4:54)
 yang  dimaksud dalam ayat ini adalah  kaum Yahudi sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas t, 'Mereka mendengki Rasulullah e karena kenabiannya dan mendengki shahabat-shahabat beliau karena keimanan mereka terhadap Rasulullah e .

Al Qur'an telah menceritakan kepada kita tentang dampak buruk dari penyakit hasad ini :
1.    ketika saudara–saudara Yusuf u dengki kepada beliau maka mereka berbuat aniaya terhadap nya yang  menyebabkan Yusuf u masuk ke dalam sumur, lalu mjd budak dan akhirnya mendekam di penjara. Al Qur'an mengisahkanhal ini dalam q.s Yusuf : 8-10.
2.   karena hasad inilah maka Qobil membunuh Habil, sebagaimana diceritakan dalam q.s. al Maidah : 27-30.
3.   karena hasad ini pula maka Iblis (la'natullahi alaihi ) kafir kepada Allah I dan tidak mau sujud kepada Adam u Dia mendengki  Adam u atas kenikmatan yang Allah I berikan kepadanya. Karena itu para ulama berkata bahwa kemaksiatan yang pertama dimuka bumi adalah  hasad dan kemaksiatan yang pertama dilangit adalah hasad pula.
4.   Kaum Yahudi tidak beriman kepada Rasulullah e setelah jelas bagi mereka bukti-bukti kenabiannya karena hasad yang menyelinap dalam hati mereka.

Keutamaan orang yang membersihkan dirinya dari hasad:
Anas bin Malik t berkata: "Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah e lalu beliau bersabda: "Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang dari penghuni surga" maka muncullah seorang laki-laki dari kaum Anshor yang bekas air wudhunya masih menetes di janggutnya, ia menenteng kedua sandalnya dengan tangan kirinya. Keesokan harinya nabi e bersabda seperti kemarin, lalu muncullah orang tersebut seperti kemarinnya. Pada hari yang  ketiga nabi e bersabda seperti itu pula, lalu muncullah orang tersebut persis seperti keadaannya pada hari pertama. Maka setelah nabi e bangkit, Abdullah bin Amru ra mengikuti orang itu lalu berkata kepadanya 'Aku dimarahi oleh ayahku, lalu aku bersumpah tidak akan masuk kepadanya selama tiga hari. Jika engkau izinkan maka aku akan tinggal di rumahmu'. Dia menjawab, 'Ya, boleh'. Kemudian Abdullah t bermalam bersamanya selama tiga malam berturut-turut akan tetapi ia tidak melihat orang tersebut shalat malam sedikitpun sampai datang waktu fajar, hanya saja Abdullah t berkata, 'Akan tetapi aku tidak pernah mendengar orang itu berbicara kecuali yang baik-baik saja'. Maka setelah berlalu tiga malam dan hampir saja aku meremehkan amal-amalnya lalu aku pun berkata, 'Wahai hamba Allah, sebenarnya antara aku dan ayahku tidak ada masalah, akan tetapi aku mendengar Rasulullah e bersabda tentang engkau selama tiga kali, "Akan muncul kepada kalian sekarang ini salah seorang dari penghuni surga". Lalu engkaulah yang  muncul selama tiga kali tersebut, maka aku ingin tinggal dirumahmu untuk melihat amalmu agar aku dapat mencontohnya, akan tetapi aku tidak melihat engkau melakukan suatu amal yang besar, maka apa sebenarnya yang membuat Rasulullah e bersabda seperti itu?'. Ia berkata, 'Amalku seperti apa yang engkau lihat'. Ketika aku berpaling darinya, ia memanggilku dan berkata, 'Amalku seperti apa yang engkau lihat, hanya saja aku tidak pernah menyimpan dalam hatiku kebencian terhadap seorang pun dari kaum muslimin dan aku tidak pernah mendengki seorang pun atas nikmat yang Allah berikan kepadanya'. Maka Abdullah t berkata, 'Nah inilah yang  menyampaikanmu kepada surga tersebut'. (HHR. Ahmad, Nasai; dihasankan oleh al Albani).

Ancaman terhadap orang yang hasad

Rasulullah e bersabda, "Jauhilah olehmu sifat hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan (hasanat) sebagaimana api memakan kayu bakar". (HR. Abu Daud)

Saudaraku ….. hindarilah olehmu hasad, karena ia adalah penyakit hati yang berbahaya. Jika engkau ridha dengan Allah I sebagai Rabbmu, maka engkau harus ridha terhadap apa saja yang diperbuat oleh Allah I terhadap dirimu dan orang lain. Jika muncul dalam hatimu hasad terhadap saudaramu maka segeralah engkau tepiskan bisikan tersebut dan do'akanlah kebaikan untuk saudaramu tersebut. Rasulullah e telah menjanjikan surga kepada seorang shahabatnya karena kebersihan hatinya dari hasad.


BERIMAN KEPADA HARI AKHIR


BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

Saudaraku…marilah kita renungkan hadits berikut :
" sesungguhnya jika seorang mukmin berada pada saat akan berpisah dengan  dunia dan akan menghadap ke akhirat maka ia dihadiri oleh para malaikat yang turun dari langit yang wajah mereka itu putih bak matahari, yang membawa kafan dan wewangian dari surga, lalu mereka duduk dihadapannya sejarak pandangan matanya. Kemudian datanglah malaikat maut lalu duduk didekat kepalanya dan berkata kepadannya, "Wahai jiwa yang baik [dalam riwayat yang lain :Wahai jiwa yang tenang], keluarlah menuju ampunan dan ridha Tuhanmu!' Lalu jiwa itu keluar mengallir seperti tetesan air mengalir dari mulut kantong air, lalu para malaikat yang tadi segera mengambilnya. Ketika ruhnya telah keluar dari jasadnya  maka seluruh malaikat yang ada diantara langit dan bumi dan seluruh malaikat yang ada di langit bersalawat kepadanya, lalu dibukakan baginya pintu-pintu langit. Tidak ada malakat penjaga pintu langit melainkan memohon kepada Allah agar ruhnya naik dari arah mereka. Apabila malaikat maut telah mencabutnya mereka tidak membiarkan ruh tersebut berda di tangan malaikat maut sekejappun sehingga mreka mengambilnya dan mele takkkannya dikafan dan wewangian tersebut. Itulah maksud firman Allah Ta'ala sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. (QS. 6:61). Darinya keluar bau harum kasturi terwangi yang ada di muka bumi. Mereka lalu naik bersama ruh tersebut

Ikhtilat …


Ikhtilat …


Ikhtilat adalah berkumpulnya beberapa laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya di satu tempat, yang memungkinkan terjadinya hubungan diantara mereka apakah melaui pandangan mata, isyarat ataupun dengan bercakap-cakap.

Hukum Ikhtilat

Ikhtilat adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan termasuk perkara yang sangat berbahaya yang Allah subhanahu wata’ala telah memperingatkan kaum muslimin dari padanya, karena ikhtilat antara dua jenis –laki-laki dan wanita-merupakan sebab yang terbesar dan yang paling mudah untuk mengantarkan pada perbuatan fahisya (yakni zina). Padahal Allah berfirman :
“Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji, dan merupakan jalan yang buruk.” (Al-Israa’ : 32).

Dan yang paling berbahaya dari ikhtilat adalah khalwat yakni bersendirian/bersepi-sepinya laki-laki dan wanita yang bukan mahram di satu tempat, karena khalwt merupakan jalan masuknya syaithan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wsallam bersabda :

G H I B A H


G H I B A H
Ghibah adalah penyakit hati yang memakan kebaikan, mendatangkan keburukan serta membuang-buang waktu secara sia-sia. Penyakit ini meluas di masyarakat karena kurangnya pemahaman agama, kehidupan yang semakin mudah dan banyaknya waktu luang. Kemajuan teknologi, telepon misalnya, juga turut menyebarkan penyakit masyarakat ini.
Lebih lanjut, ikuti penjelasannya berikut ini.
Hakekat Ghibah
Ghibah
adalah membicarakan orang lain dengan hal yang tidak disenanginya bila ia mengetahuinya, baik yang disebut-sebut itu kekurangan yang ada pada badan, nasab, tabiat, ucapan maupun agama hingga pada pakaian, rumah atau harta miliknya yang lain. Menyebut kekurangannya yang ada pada badan seperti mengatakan ia pendek, hitam, kurus dan lain sebagainya. Atau pada agamanya seperti mengatakan ia pembohong, fasik, munafik dan lain-lain.
Kadang orang tidak sadar ia telah melakukan ghibah, dan saat diperingatkan ia menjawab: "Yang saya katakan ini benar adanya!" Padahal Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan tegas menyatakan perbuatan tersebut adalah ghibah. Ketika ditanyakan kepada beliau, bagaimana bila yang disebut-sebut itu memang benar adanya pada orang yang sedang digunjing-kan, beliau menjawab: "Jika yang engkau gunjingkan benar adanya pada orang tersebut, maka engkau telah melakukan ghibah, dan jika yang engkau sebut tidak ada pada orang yang engkau sebut, maka engkau telah melakukan dusta atasnya." (HR. Muslim)

Ketahuilah Wahai Hamba Allah!


Ketahuilah Wahai Hamba Allah!

Ketahuilah wahai hamba Allah …
Rasul ‘alaihis sholatu wa salam pernah bersabda ketika ada salah seorang sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu bertanya tentang amalan yang memasukkan ke dalam surga dan menjauhkan dari neraka .Beliau jawab “ Beribadahlah hanya pada Allah dan jangan menyekutukanNya, tegakkan shalat, tunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.” Selanjutnya beliau menunjukkan pintu-pintu kebaikan ,sabda beliau “Puasa adalah perisai, sedekah menghapus kesalahan seperti aair memadamkan api, dan shalatnya seseorang di akhir malam”. Lanjut beliau “Pokok urusan ialah Islam, tiangnya adalah shalat,

Kehidupan Sehari-Hari Yang Islami


Kehidupan Sehari-Hari Yang Islami



Saudaraku...
Dengan penuh pengharapan bahwa kebahagiaan dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka kami sampaikan risalah yang berisikan pertanyaan-pertanyaan ini ke hadapan Anda untuk direnungkan dan dijawab dengan perbuatan.
Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat ke hadapan Anda dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah I , supaya kita bisa mengambil manfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisinya selama ini.

Saudaraku...
Risalah ini dinukilkan dari buku saku yang sangat bagus dan menawan yaitu Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) dari hal. 51 - 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dan diterjemahkan oleh saudara kita Fariq Gasim Anuz semoga Allah
I membalasnya dengan pahala dan surga-Nya.

Kehidupan Sehari-hari Yang Islami :
1.     Apakah Anda selalu shalat Fajar berjama'ah di masjid setiap hari ?
2.    Apakah Anda selalu menjaga Shalat yang lima waktu di masjid ?
3.    Apakah Anda hari ini membaca Al-Qur'an ?
4.    Apakah Anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan Shalat wajib ?
5.    Apakah Anda selalu menjaga Shalat sunnah Rawatib sebelum dan sesudah Shalat wajib ?
6.    Apakah Anda (hari ini) Khusyu dalam Shalat, menghayati apa yang Anda baca ?
7.    Apakah Anda (hari ini) mengingat Mati dan Kubur ?
8.    Apakah Anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya ?
9.    Apakah Anda telah memohon kepada Allah I sebanyak tiga kali, agar memasukkan Anda ke dalam Surga? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata : "Wahai Allah I masukkanlah ia ke dalam Surga".
10. Apakah Anda telah meminta perlindungan kepada Allah I agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata : "Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka". (Berdasarkan hadits Rasulullah r yang artinya: "Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata : "Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata: "Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka". (Hadits Riwayat Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6).
11.  Apakah Anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ?
12. Apakah Anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik ?
13. Apakah Anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau ?
14. Apakah Anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala ?
15. Apakah Anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari ?
16. Apakah Anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah I atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -pent) ?
17. Apakah Anda telah memohon kepada Allah I dengan benar untuk mati Syahid ? Karena sesungguhnya Rasulullah r telah bersabda yang artinya: "Barangsiapa yang memohon kepada Allah I dengan benar untuk mati syahid, maka Allah I akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur". (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).
18. Apakah Anda telah berdo'a kepada Allah I agar ia menetapkan hati Anda atas agama-Nya ?
19. Apakah Anda telah mengambil kesempatan untuk berdo'a kepada Allah I di waktu-waktu yang mustajab ?
20.Apakah Anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama ? (Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi r )
21. Apakah Anda telah memintakan ampunan kepada Allah I untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah ? Karena setiap mendo'akan mereka Anda akan mendapat kebajikan pula.
22.Apakah Anda telah memuji Allah I (dan bersyukur kepada-Nya -pent) atas nikmat Islam ?
23.Apakah Anda telah memuji Allah I atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya ?
24.Apakah Anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya ?
25.Apakah Anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah I saja ?
26.Apakah Anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri ?
27.Apakah Anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah I ?
28.Apakah Anda telah menda'wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri Anda ?
29.Apakah Anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua ?
30.Apakah Anda mengucapkan "Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji'uun" jika mendapatkan musibah ?
31. Apakah Anda hari ini mengucapkan do'a ini: "Allahumma inii a'uudubika an usyrika bika wa anaa a'lamu wastagfiruka limaa la'alamu = Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui". Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah I akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil. (Lihat Shahih Al-Jami' No. 3625).
32.Apakah Anda berbuat baik kepada tetangga ?
33.Apakah Anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki ?
34.Apakah Anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya ?
35.Apakah Anda takut kepada Allah I dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian ?
36.Apakah Anda selalu bertaubat kepada Allah I dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan ?

Saudaraku………...
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, insya Allah.

Iri Dan Dengki


Iri Dan Dengki
Banyak orang tak bisa mengelakkan dirinya dari sifat iri dan dengki. Dengki kepada kawan yang baru naik jabatan, dengki kepada tetangga yang punya mobil mewah, dengki kepada saudara yang anaknya sarjana dan berpenghasilan tinggi dan lain sebagainya. Kedepan, abad globalisasi dan keterbukaan semakin pula membuka 'kran hati' untuk saling mendengki. Karena ukuran globalisasi identik dengan materi. Orang pun semakin tak bisa mengendalikan hati. Lebih lanjut kita uraikan berikut ini.
Hakekat Dengki
Rasa dengki dan iri baru tumbuh manakala orang lain menerima nikmat. Biasanya jika seseorang mendapatkan nikmat, maka akan ada dua sikap pada manusia. Pertama, ia benci terhadap nikmat yang diterima kawannya dan senang bila nikmat itu hilang daripadanya. Sikap inilah yang disebut hasud, dengki dan iri hati. Kedua, ia tidak menginginkan nikmat itu hilang dari kawannya, tapi ia berusaha keras bagaimana mendapatkan nikmat semacam itu. Sikap kedua ini dinamakan ghibthah (keinginan). Yang pertama itulah yang dilarang sedang yang kedua diperbolehkan.
Sebagian Kisah Al Qur'an tentang Orang-orang yang Dengki

Ikhlas dan Niat Allah berfirman :


Ikhlas dan Niat
Allah berfirman :
( Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan ) Huud : 15-16
Dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, dia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya segala pekerjaan itu ( diterima atau tidaknya di sisi Allah )hanyalah tergantung niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang diniatkannya, maka barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang akan dia menikah dengannya, maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan. HR. Muttafaq 'alaih.

ISHLAHUL QULUB (PERBAIKAN JIWA)



ISHLAHUL QULUB
(PERBAIKAN JIWA)


5 Pondasi Ishlahul Qulub

1. Qalbu adalah salah tempat pandangan Allah `Azza wa Jalla.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : »إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لاَ يَنْظُرُ إلى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ « رواه مسلم (16/121 ) قال شيخ الإسلام رحمه الله في"الاستقامة"(1/425) : "ومعلومٌ أنّه لمْ ينف نظر الإدْراك ، ولكن نظر المحبة".
Abu Hurairah Rda berkata : Rasulullah Saw bersabda :
“Sesungguhnya Allah Ta`ala tidak memandang rupa-rupa dan harta kalian, akan tetapi Dia memandang qalbu dan amal kalian”. (Hr. Muslim : 16/121. syeikhul Islam rahimahullah dalam “Al Istiqomah” : 1/425 berkata : Sudah diketahui bahwa hal itu bukan berarti pandangan umum, akan tetapi yang dimaksud adalah pandangan kecintaan).
 

Jangan Mudah Terprovokasi

Jangan Mudah Terprovokasi
Suatu ketika Madinah diguncang berita heboh, sebuah berita besar -yang sebenarnya merupakan fitnah- telah mendera keluarga Nabi Shalallaahu alaihi wasalam . Maka berita miring itu pun akhirnya menjadi buah bibir yang tersebar dibicarakan orang di sana-sini. Demikian hebat makar para munafiqin untuk menghancurkan Islam, namun sungguh Allah Maha Kuasa sehingga kedok-kedok mereka terbongkar. Maka kaum mus-limin pun tahu, bahwa apa yang selama ini tersebar di masyarakat Madinah tentang keluarga Nabi Shalallaahu alaihi wasalam tak lebih hanya sebagai isapan jempol, semuanya dusta.
Kisah di atas memberikan pelajaran bagi kita, tentang bagaimana mudahnya manusia mempercayai berita negatif yang menyangkut seseorang. Adalah merupakan watak masyarakat awam, bahwa mereka amat mudah terprovokasi oleh orang lain. Sehingga amat banyak manusia yang memanfaatkan titik kelemahan masyarakat ini sebagai sarana untuk mencapai ambisi dan tujuan pribadinya.
Kaum muslimin, adalah umat yang senantiasa dianjurkan untuk berlaku adil, tidak mudah terprovokasi dan tidak gampang memvonis orang hanya bersandarkan kepada berita semata, semuanya harus dilihat secara jernih dan teliti. Dan andaikan berita itu benar, maka tetap saja tak selayaknya sesama muslim saling menceritakan dan menye-barkan aib saudaranya. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah memberikan predikat "pendusta" kepada orang yang menceritakan setiap berita yang dia dengar, "kafa bil mar'i kadziban."
Berikut ini kami sampaikan beberapa langkah yang hendaknya dilakukan oleh setiap muslim tatkala mendengar berita yang menyangkut seseorang. Mudah-mudahan dengan menerapkannya, kita semua akan menjadi pribadi-pribadi yang menjunjung keadilan dan inshaf, tidak mudah digoyang oleh isu, rumor atau pun berita-berita yang belum jelas kebenarannya.

GAPAILAH SYUKUR ALLAH


GAPAILAH SYUKUR ALLAH

Ya Ikhwah ………. Tahukah kita di antara Asmaul Husna yang tercantum dalam Al Quran adalah : الشاكر – الشكور   yang menurut Al Qohthony maknanya adalah :
الذى لا يضيع سعي العاملين لوجهه  بل يضاعفه أضعافا مضاعفة.
"Rabb yang tidak menyia-nyiakan upaya para pelaku amal ikhlas karenaNya, bahkan dilipatgandakan berkali-kali lipat".
Di dalam Shahihain Rasulullah saw bersabda:
كل عمل ابن آدم له يضاعف الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف
"Setiap amal (kebaikan) anak Adam dilipatgandakan dengan 10 hingga 700 kali lipat".
            Pertanyaannya ya ikhwah, kriteria yang bagaimana seseorang dapat menggapai syakir  dan syakur Allah swt ?

Wahai anakku,.. bertakwalah kepada Allah!




Wahai anakku,.. bertakwalah kepada Allah!


Wahai anakku...
Sesungguhnya Rabmu mengetahui apa yang kamu betikkan dalam hatimu, dan Dia mengetahui apa yang engkau ucapkan dengan lisanmu, dan Dia melihat terhadap segala amalanmu, maka bertakwalah kamu kepada Allah wahai anakku, dan berhati-hatilah kamu terhadap pengawasan-Nya pada saat kamu dalam keadaan yang tidak diridhai oleh-Nya.

Hati-hatilah kamu dari kemurkaan Rabbmu, yang mana Dialah yang telah menciptakanmu dan memberikan rizki kepadamu serta yang telah mengaruniai kamu akal yang dapat kamu gunakan di dalam kehidupanmu. Bagaimana perasaanmu ketika bapakmu melihat dirimu dalam keadaan melanggar perintahnya? Apakah kamu tidak khawatir nantinya bapakmu akan menghukummu? Maka jadikanlah perasaanmu sama seperti itu [bahkan lebih] kepada Allah, karena Dia dapat melihat dirimu disetiap kesempatan yang kamu tidak dapat melihat Dia! Maka janganlah kamu anggap enteng pada perkara apapun juga yang kamu telah dilarang darinya!

HARUSKAH MENCARI JALAN PINTAS ?



HARUSKAH MENCARI JALAN PINTAS ?

Saudaraku ! Telah berlalu satu generasi yang dinilai Murabbi-nya (Rasulullah) sebagai generasi terbaik umat ini. Dan bahkan Allah pencipta alam semesta telah menetapkan keberhakan mereka untuk menyandang :

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah… (QS. 3:110)

Itulah sebuah generasi yang di dalamnya telah bersatu antara idealisme dan realitas. Diterjemahkannya nilai-nilai ideal Islam ke dalam dunia realitas dan diangkatnya dunia realitas kemanusiaan ke tingkat ideal. Tahukah kita, rahasia apa yang telah menciptakan wujud kemanusiaan yang mulia tersebut ? Tak ada satupun yang meragukan bahwa rahasianya adalah Al Qur`an…sebuah Kitab mulia yang di-turunkan guna menata ulang kemanusiaan atas dasar hidayah Wahyu Rabbani.

Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (QS. 17:9)

Akan tetapi, bagian manakah dari Kitab yang mulia ini yang menjadi rahasia besar perubahan kemanusiaan tersebut ? apakah hanya ungkapan-ungkapan kalimatnya yang indah ? Susunannya yang tertib ? langgam-langgamnya yang mendayu ? makna-maknanya yang begitu lengkap ? hukum-hukumnya yang adil ? atau kisah-kisahnya yang me-nyentuh ? Kita tidak meragukan bahwa semua itulah rahasianya. Setiap huruf di dalam Al Qur`an memiliki kandungan di masing-masing tempatnya serta masing-masing.memiliki sisi pengaruhnya Akan tetapi, tidak keliru jika kita katakan bahwa kandungan Al Qur`an yang paling utama adalah kandungan Uluhiyyah … kandungan لا إله إلا الله  

Al Qur`an telah menancapkan asas ini di masa Makkah dan mengkontinyukannya hingga di Madinah kepada semua kaum mukmin-in, suatu kaum yang telah beriman dan tertancap keimananya dalam jiwa-jiwa mereka, hingga melahirkan umat Islam, negara Islam dan tentara-tentara Islam yang berjuang di jalan Allah. Menancapkan asas ini bukan disebabkan adanya pengingkaran orang-orang yang diajak dialog Al Qur`an pertama kali. Akan tetapi, asas ini dimulai karena itulah satu-satunya kunci yang mampu membuka hati-hati kemanusia-an ke arah kebajikan, menumbuhkan sikap kebaikan, membinanya di atas kebajikan dan melahirkan nilai-nilai kebaikan.

Untuk itu, saudaraku ! terjun ke dalam masalah-masalah politik (contoh minimal demonstrasi mendukung satu penguasa dan  menolak penguasa yang lain) bukan merupakan tugas dasar jama`ah kaum muslimin. Tugas dasar kita adalah menjelaskan manhaj Islami yang dapat meluruskan berbagai urusan serta menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi adalah akibat ketidak ittiba`an kita kepada manhaj Rabbani tersebut. Dan kita harus memahami bahwa kejatuhan dan kebangkitan seorang penguasa di bagian dunia Islam yang mana saja saat ini tidak akan pernah merubah Mauqif sedikitpun, sepanjang tidak terdapat “Qaidah Islamiyah” yang siap menegakkan hukum Islami, kemudian menjaga dan memelihara eksistensinya, yang kesemuanya itu hanya dapat diharapkan dari diri kaum muslimin itu sendiri. Karena, penguasa akan berubah silih berganti yang tetap saja akan memerangi Islam dan kaum muslimin walaupun dengan sarana dan cara yang berbeda, sepanjang “Qaidah Islamiyah” belum terwujud.

Tugas seorang da`i bukan hanya menjelaskan kepada manusia untuk menjadi muslim di dalam dunia saja, walaupun tidak memiliki nilai di sisi Allah pada hari kiamat. Tugas mereka adalah menjelaskan kepada manusia bagaimana menjadi seorang mukmin yang hakiki dalam mizan Allah dan diterima di sisiNya pada hari kiamat nanti. Hal itu berarti bahwa tugas mereka adalah memberikan penjelasan kepada manusia tentang hakekat Islam – hakekat tauhid yang bebas dari syirik (dengan tanpa membedakan antara syirik pribadi maupun syirik hukum) serta hakekat sunnah yang bebas dari bid`ah (dengan tanpa membedakan bid`ah ibadah maupun bid`ah sosial) yang merupakan kandungan syahadah  لا إله إلا الله dan syahadah  محمد رسول الله – dan bukan semata-mata terwujudnya Madzhariah Al Islam (simbol-simbol Islam) dalam kehidupan dunia (tanpa terwujudnya tauhid dan sunnah dalam jiwa-jiwa pribadi dan masyarakat)

Bagaimana mungkin seorang muslim yang diperintahkan oleh diennya untuk bertahkim kepada syari`at Allah semata, tanpa yang lainnya dan berikrar bahwa setiap hukum selain hukum Allah adalah hukum jahiliyah yang tidak boleh diterima, diridhai dan bersekutu bersamanya, dengan bangganya bergabung dalam majlis yang menetapkan syari`at jahiliyah, terlebih lagi memberikan sumpah setia kepadanya atau memperhatikan terpeliharanya konstitusi tersebut. Ingatlah, wahai saudaraku ! Allah mengingatkan :

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam, (QS. 4:140)

Merubah kondisi umat dan mengembalikannya kepada hakekat Islam tidak dapat terjadi semudah yang dibayangkan banyak orang. Sesuai sunnatullah dia membutuhkan waktu yang amat panjang dan kesungguhan yang amat besar.

Pertama-tama kita perlu menjelaskan hekekat-hakekat agama yang dimajhulkan, dimulai dengan hakekat لا إله إلا الله . Kemudian yang kedua perlu mentarbiyah masyarakat tentang konsekwensi kandungan kalimat tersebut dalam medan realitas kehidupan (dengan tanpa melupakan penjelasan yang gamblang tentang makar musuh-musuh Allah). Hal itu merupakan pekerjaan yang amat-amat panjang yang tidak mungkin – sesuai dengan sunnatullah – sempurna dalam waktu singkat… Sedangkan masa yang dilalui dakwah – dibandingkan dengan umur umat – amat-amat singkat.

Lari dari medan dakwah dan tarbiyah dengan mengambil jalan pintas merupakan pelarian dari kenyataan yang tidak mampu kita hadapi dengan penuh kesabaran. Sabarlah dan adulah kesabaran dengan musuh-musuh Allah dalam mentarbiyah diri kita dan masyarakat kita tentang hakekat Islam yang sesungguhnya, sampai Allah menilai bahwa kita memang berhak menjadi penegak hukum Allah di bumiNya yang permai.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa.Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik. (QS. 24:55)

Inilah nasehat singkat yang disarikan dari kitab :
“ Waaqi`unal Mu`aashir” oleh Muhammad Quthb.


AAS